Wednesday, 23 October 2019

Menahan Jari, Menahan Diri

Pernah ga kamu lagi scrolling IG misalnya, kemudian menemukan foto yang secara tidak langsung mengusikmu? Bawaannya pengen komentar. Kalau sudah komen, lega gitu rasanya. Atau pernah ga kamu melihat seseorang/sesuatu yang secara tidak langsung mengusikmu? Kemudian kamu ingin sekali update status meluapkan kekesalanmu terhadap orang tersebut? Saya rasa hampir semua pernah ya.

Disini saya bukan mau menggurui atau merasa lebih baik dari siapapun. Saya ingin sedikit menganalisa fenomena yang cukup merebak di kalangan millenials seperti kita. Yupp.. Cyber Bullying.. Makin kesini dunia maya mengambil tempat yang cukup besar di kalangan masyarakat luas.. Pengaruhnya sangat kuat hingga bikin baper para penggunanya.. Tidak peduli apakah orang itu kita kenal atau tidak, kalau sudah komen di postingan kita, mau positif atau negatif, langsung baper. Ini faktanya yang sekarang terjadi.

Nah, sekarang pernahkah kita berpikir jika apa yang kita tulis atau kita komentari memberikan dampak yang sangat kuat bagi orang lain? Padahal kita tidak menganggapnya serius. Hanya bertujuan untuk membuat hati menjadi "Lega". Berbahaya ketika kita melontarkan ungkapan negatif, kemudian orang yang menerimanya menganggap serius dan merasa terintimidasi, namun kita tidak menyadarinya.

Makin kesini manusia makin ingin dilihat dan diperhatikan. Merasa difasilitasi oleh media sosial, mereka tak peduli apa dampaknya. Ketika menghina seseorang, mereka pikir itu hal terkeren yang mereka lakukan di dunia maya. Atau menganggap orang-orang di dunia maya sama dengan orang-orang terdekatnya. Misalnya, saya punya sahabat karib yang cuek dan ga peduli apa kata orang. Saya mengejeknya dan menertawakannya. Saya berani karena saya yakin dia tidak akan tersinggung. Ini tidak akan menimbulkan efek apa-apa. Namun ketika kita berpikiran bahwa orang lain di dunia maya sama dengan sahabat kita tadi, maka kita akan menghina dan melontarkan ujaran kebencian kepada semua orang dengan berbagai karakter yang berbeda. Dampaknya pun akan berbeda.

Ada suatu peristiwa yang membuat saya yakin bahwa Cyber Bullying sangat berdampak bagi jiwa kita. Suatu hari seseorang yang saya kenal menerima pesan dari orang lain dengan kata-kata kasar dan celaan yang ditujukan untuknya. Saat menerima pesan itu saya sedang bersamanya. Dia memperlihatkan pesan itu pada saya. Saya menghiburnya dan mengatakan agar dia bersabar dan ga usah dipikirkan. Dia tersenyum dan bercanda tawa kembali seperti biasa. Tak lama kemudian dia pamit pulang. Sesampainya di depan pintu, tiba-tiba dia terduduk lemah dan tak bisa bangun lagi. Dia tersenyum dan mengatakan bahwa tiba-tiba kakinya merasa lumpuh. Dengan wajah tersenyum dia berusaha bangun namun berkali-kali dicoba tetap tak bisa bangun. Lama kelamaan dengan bantuan, dia pun bisa bangun. Kemudian tangisnya pecah. "Tiba-tiba saya teringat pesan tadi. Ketika ingat itu, jantung saya serasa jatuh dari tempatnya, dan tiba-tiba kaki saya lemah. Saya tidak tahu kenapa," ujarnya menjelaskan. Padahal sejak tadi dia tersenyum dan bercanda.

Pesan yang ia terima adalah pesan yang disampaikan secara pribadi, namun dampaknya bisa sampai merasakan kelumpuhan sesaat. Bayangkan saja kalau pesan yang diterima adalah pesan yang dituliskan di ruang obrolan publik, di kolom komentar, di postingan-postingan yang bisa dilihat semua orang. Kira-kira teman-teman bisa membayangkan dampaknya? Itu baru satu kometar/pesan, kalau dua? Tiga? Puluhan? Ratusan?

Yuk, tahan jari, tahan diri. Lebih baik diam. Meskipun ada kalimat yang terlintas di kepala, jangan ucapkan. Jangan tuliskan. Jangan kirimkan. Karena orang lain tidak sama. Kita tidak sama. Dan semua orang tidak sama.

Mari perbanyak senyum dan menghargai kehidupan orang lain sebagaimana kita mengharapkan agar hidup kita dihargai.

---

Catatan Tambahan
19 Maret 2020: Hari ini saya menemukan quote yang bagus. "Ada suhu di sebuah bahasa. Yang mengatakannya mungkin baik-baik saja. Namun yang mendengarnya merasa terbakar." (Temperature of Language)

Sunday, 1 September 2019

Saleha, Tabungan dan Sepeda

Sebenarnya tak pernah ada niatan untuk menulis tentang ini, akan tetapi suka dan dukanya mendorong saya untuk membagi pengalaman tentang proses pencarian sepeda untuk Saleha. Sudah sejak tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2018, Saleha mengutarakan keinginannya untuk memiliki sepeda.. Saya ingat betul saat itu kami sedang berada dalam Bis menuju Manado. Saat berhenti di daerah Amurang, Bis berjalan lambat karena lalu lintas padat merayap.. Saleha melihat keluar jendela dan menunjuk Toko Sepeda di seberang jalan. Ia berkata, "Abah, nanti abah mau beliin Saleha itu ya, bah!" Terlihat sepeda warna warni terpajang di luar toko.
Abah Saleha tersenyum dan mengatakan, "Saleha berdoa ya semoga abah punya uang untuk beli sepeda."
Saleha nampak girang karena telah diberikan harapan. Dia pun langsung mengangkat tangan tanda bahwa ia sedang berdoa.


Hari demi hari berlalu, Saleha seringkali mengutarakan keinginannya untuk memiliki sepeda. Namun karena saat itu saya sedang hamil tua dan berencana melahirkan di rumah orangtua, sehingga pikiran untuk membeli sepeda dalam waktu dekat tidak terlintas sama sekali. Kebutuhan urgen kami adalah persiapan kelahiran adik Saleha di kampung halaman. Kami pun menghibur Saleha dengan memintanya berdoa pada Allah agar diberikan sepeda. Setiap Saleha minta sepeda, kami menyuruhnya berdoa dan terus berdoa. Berdoa meminta sepeda menjadi rutinitas bagi Saleha.
Setiap ada anak naik sepeda, saya melihat mata saleha berbinar tanda bahwa ia menginginkannya. Namun sejak hamil hingga melahirkan, kami sama sekali tidak punya anggaran untuk membelikan Sepeda. Kami selalu meminta saleha untuk bersabar dan menunggu sampai ada rizki untuk membeli Sepeda yang dia inginkan.


Suatu ketika di bulan Oktober, setelah melahirkan anak kedua, adik saya datang ke rumah orangtua kami berencana menemani saya yang habis melahirkan. Dia datang bersama anaknya yang umurnya satu tahun dibawah saleha. Melihat mereka datang saat itu saleha nampak gembira karena sepupunya punya sepeda. Saleha pun punya kesempatan untuk meminjam sepeda milik sepupunya. Namun setelah sebulan mereka pulang dan Saleha pun terlihat sangat sedih karena mau tak mau sepedanya harus ikut pulang ke Tangerang..


Melihat begitu excited nya saleha dengan Sepeda, sampai-sampai kakeknya Saleha punya keinginan untuk membelikan sepeda. Akan tetapi saya mencegahnya karena kami tidak akan lama dan harus pulang ke Sulut setelah melahirkan. Saleha tipikal anak yang tidak berani meminta atau meminjam barang orang lain, kecuali mereka yang memberikannya. Sehingga setiap saleha melihat anak-anak lain bermain sepeda, dia hanya diam menyaksikan dan tak berani meminjam. Seringkali saya berdoa secara khusus agar Allah memudahkan jalan agar Saleha bisa dapat sepeda. Hingga pada akhirnya kami pulang ke Sulut.


Sepulangnya kami dari kampung halaman, harapan Saleha untuk membeli sepeda semakin menguat. Akan tetapi, selalu saja ada prioritas lain sehingga tidak jadi membeli sepeda. Pada bulan Februari lalu kami pergi ke pasar dan melihat celengan berbentuk beruang. Terlintas dalam benak kami untuk menabung agar bisa membeli sepeda. Kami pun membuat komitmen dengan Saleha, kalau celengannya sudah penuh, kita akan beli sepeda. Saleha pun terlihat girang karena diberikan harapan.
Setiap ada uang kembalian di minimarket atau dari pasar, kami memberikan uang tersebut kepada Saleha agar ditabung. Saleha pun senang karena celengannya terisi sedikit demi sedikit. Bahkan kami membuat perjanjian, tidak akan menggunakan uang logam 1000 rupiah karena harus dimasukkan ke dalam celengan. Hari demi hari Saleha selalu mengisi celengan beruangnya. Meskipun sangat lambat, namun tiada hari tanpa mengisi celengan Saleha. Dia bahkan sering memeluk celengannya dan memperlihatkan pada kakek dan neneknya ketika video call. "Nenek, kakek, ini celengan Saleha untuk beli sepeda," ujar Saleha dengan gembira. Seringkali neneknya mengutarakan ingin mengirim uang untuk beli sepeda. Namun kami mencegahnya, dengan maksud agar saleha terbiasa menabung dan melatih diri untuk bersabar.


Saat Idul Fitri Saleha mendapatkan uang dari para kerabat. Setelah mendapatkan uang tersebut, Saleha selalu mengisinya di celengan. Bulan Juli lalu saya pun mengutarakan kepada abah saleha untuk membuka celengannya. Namun karena celengannya belum penuh, abah saleha menundanya. Hingga pada akhir bulan Agustus 2019, celengan beruang Saleha sudah penuh. Kami pun membuka dan menghitungnya. Namun, uang yang terkumpul hanya Rp 330.000,00, sedangkan harga sepeda diatas 500ribu. Saya melirik abah Saleha dengan ekspresi cukup kecewa, tapi tidak memperlihatkannya di depan Saleha. Saleha nampak sangat gembira karena menurutnya kesempatan untuk membeli sepeda sudah di depan mata. Agar Saleha tidak kecewa, kami tetap akan membelikannya sepeda dengan menambahkan dari kantong pribadi.
Beberapa hari kemudian Saleha mendapatkan rizki yang tak terduga. Ia menerima hadiah uang 300ribu dari tetangga dan kerabat lain. Alhamdulillah. Allah memberikan kemudahan dari jalan yang tak disangka-sangka. Uangnya sudah lebih dari cukup untuk membeli Sepeda.


Beberapa hari kemudian kami pun memutuskan untuk jalan-jalan mencari Sepeda. Kami berhenti di sebuah toko di Bintauna. Disana kami melihat orang-orang sedang berkumpul melihat sepeda yang dijual. Ada sebuah sepeda kecil berwarna ungu dengan keranjang di depannya. Mata Saleha langsung berbinar  dan langsung mencobanya. Namun, Sepeda itu hanya satu-satunya yang ada, dan kebetulan sudah ada yang mau mengambilnya sebelum kami. Saleha pun turun dari sepeda tersebut dengan wajah sedih. Namun kami tidak bisa berbuat apa-apa karena orang lain sudah mengambilnya lebih dulu. Dengan wajah sedih, Saleha melihat sepeda yang dibawa keluar dari toko dan siap dibawa pulang oleh orang lain. Saya merangkul Saleha dan meminta Saleha untuk bersabar dan kita akan cari toko lain. Matanya yang sudah berkaca-kaca tiba-tiba berubah menjadi senang. Karena sudah sore, akhirnya kami pulang ke rumah dan melanjutkan pencarian esok harinya.


Keesokan harinya Saleha pergi bersama Abahnya, mencari-cari toko yang menjual sepeda. Namun hari itu lagi-lagi Saleha harus kecewa. Tidak ada sepeda ukuran Saleha, yang ada hanya yang lebih tinggi ukurannya. Saat berada di toko dan melihat-lihat, Abah menaikkan saleha di sepeda yang tinggi tersebut, dan nampaknya Saleha paham kalau sepeda itu tak cocok untuknya. Ia pun meminta turun dan menarik lengan Abah keluar toko.
"Saleha mau yang itu?" tanya Abah.
Saleha menggeleng, "Itu kebesaran, bah."
"Iya, itu besar. Yang kecil sudah habis," jawab Abah.
Saleha punenimpali, "Ada bah, yang kemarin itu pas pulang dari Ilabulo." (Maksudnya adalah toko yang kemarin didatangi sepulang dari membeli Ilabulo)
"Kan teteh lihat sendiri kemarin sepedanya sudah diambil kakak,"
"Lihat lagi bah, siapa tahu ada," Saleha membujuk abahnya.

Akhirnya abahnya mengajak Saleha ke toko yang kemarin, namun masih tidak ada. Abah mengajak saleha berkeliling melihat-lihat toko yang menjual sepeda, namun tidak ada satupun toko yang menjual sepeda untuk ukuran Saleha. Di perjalanan saat berkeliling, Saleha mengantuk dan tertidur sampai pulang ke rumah.
Sampai di rumah ia masih tertidur. Saya bertanya pada Abah Saleha, bagaimana hasil pencariannya? "Ga ada satupun yang jual. Semua ukurannya besar. Kasihan Saleha," jelas Abah Saleha, sambil menceritakan kejadiannya.


Mendengar itu rasanya hati saya sedih sekali. Melihat Saleha menunggu untuk dapat dibelikan sepeda sejak setahun yang lalu. Mengingat dia berdoa setiap waktu agar diberikan Sepeda. Berusaha menabung recehan selama 6 bulan tanpa bosan karena dengan itu lahir harapan dalam benaknya. Namun saat uang itu sudah terkumpul, Sepeda yang diidamkan malah tidak ada. Hatinya pasti sangat sedih dan kecewa.


Abah Saleha selalu memberikan pengertian bahwa Sepeda yang sesuai dengan umur Saleha belum ada. Saleha harus bersabar. Namun Saleha sempat nyeletuk, "Ga apa-apa bah. Yang besar juga ga apa-apa. Nanti didorong aja sampai Saleha besar." Kalimat itu cukup membuat kami iba. Namun, kami tetap memberikan pengertian agar Saleha selalu bersabar. Insya Allah akan ada saatnya dimana Saleha punya sepeda.


Kami tinggal di Kecamatan kecil yang cukup jauh dari Kabupaten/Kota, sehingga toko yang ada tidak bervariasi. Setiap keluar, abah Saleha melihat-lihat apa sudah ada toko yang menjual sepeda ukuran Saleha. Namun, seminggu berlalu dan tidak ada tanda-tanda adanya produk baru yang dipajang di toko.


Beberapa waktu lalu, kakek Saleha secara tiba-tiba mengirim uang untuk Saleha sebesar 250 Ribu Rupiah. "Kakek mau lihat Saleha naik Sepeda nya, nanti fotoin yah", ujar nenek Saleha melalui WA. Kami sangat bersyukur ada tambahan lagi untuk Saleha dan terkumpul hampir 2 kali lipat dari yang dianggarkan. Melihat hal ini kami pun berusaha mencari walaupun di toko yang lebih jauh dari rumah.


Hari Minggu sore kami pun berangkat mencari Sepeda. Kami berhenti di toko Sepatu dan Tas, dan Alhamdulillah ada Sepeda mungil terpajang disana. Sepeda yang sesuai ukuran Saleha. Ada dua warna, warna biru dan ungu dengan Karakter Sailor Moon. Saleha nampak sangat antusias dan menunjuk sepeda warna biru. Dia pun mencoba menaikinya dan sangat cocok dikendarai oleh Saleha. Kami pun bertanya sekali lagi, "Saleha mau yang ini?" Saleha mengangguk cepat. Dan akhirnya pencarian sepeda untuk Saleha berakhir sampai disini. Kami sangat lega dan cukup tak percaya karena membeli Sepeda bukan prioritas kami. Namun, dengan sendirinya rezeki datang khusus untuk Saleha.


Pengalaman ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya khususnya. Bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses. Bagaimana Saleha dengan rutinnya mengisi celengan, berdoa, dan berusaha semaksimal mungkin agar keinginannya tercapai. Melatihnya untuk selalu bersabar namun jangan sampai kehilangan harapan. Sehingga setelah mendapatkan sepeda ini rasanya sangat berkesan dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. I'm proud of you my little girl.


Satu lagi pelajaran yang saya ambil, ialah jangan pernah membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Orang lain bisa mendapatkan sesuatu itu karena usahanya. Kita hanya melihat dari luar. Dia punya ini, dia punya itu. Sepertinya gampang banget. Tapi sebenarnya kita tak pernah tau, seberapa banyak tenaga yang mereka keluarkan, sedalam apa kesabaran mereka, dan sesering apa mereka berdo'a hingga peluh dan air mata keluar setiap hari dari tubuhnya. Semua terjadi karena proses yang mungkin tak pernah bisa kita bayangkan.


#SelfReminder

Saturday, 13 April 2019

Saleha vs Gadget

Gadget merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh generasi kita saat ini. Saya menyadari bahwa makin hari perkembangan teknologi berkembang sangat cepat. Begitu pula berbagai bentuk komunikasi dan penyampaian informasi saat ini tak luput dari Gadget. Di tulisan ini saya akan menyampaikan sedikit pengalaman saya mengenai tarik-ulur penggunaan Gadget terhadap Saleha sampai akhirnya Saleha sudah terbebas dari Gadget, baik berupa Android hingga PC/Laptop.

Pemberian gadget terhadap Saleha dimulai sejak dia berumur 18 bulan. Saat itu Saleha mulai menghafal Surah-surah pendek, do'a-do'a dan kosakata bahasa Arab. Sebagai ibu yang bangga dengan perkembangan anaknya, saya mencari cara untuk memfasilitasinya. Dan saat itu yang benar-benar membantunya menghafal adalah video hafalan surah yang dikemas dengan visual anak-anak. Saat itu saya download video Upin Ipin sedang mengaji bermacam-macam Surah. Saleha pun nampak antusias dan seperti harapan saya, dia menangkap semuanya dengan cepat. Padahal bicaranya belum fasih, tapi dia sudah tahu  beberapa surah pendek, do'a-do'a dan kosakata bahasa Arab. Ibunya tinggal follow up dan mendokumentasikannya (tetep yaa, ga kelewat 😂).

Lama kelamaan Saleha mulai akrab dengan HP. Yang pada awalnya pegang HP saat diberikan, sudah mulai meminta. Pernah suatu ketika HP tergeletak di atas kasur. Saleha mengambilnya, dan entah bagaimana HP tersebut jatuh ke lantai dalam posisi tengkurap, menyebabkan layarnya retak. Saya datangi beberapa tempat servis HP dan mereka meminta 400-500ribu untuk memperbaikinya. Sebagai emak-emak irit yaaa, saya ga mau keluarkan uang untuk servis HP, sehingga retaknya masih ada sampai sekarang 😂. Dari situlah saya menghentikan pemakaian HP kepada Saleha. (Sudah retak aja baru dihentikan,, gimana sih ibu??)

Sampai tiba saat Saleha genap berumur 2 tahun.  Tak lama kemudian, kabar bahagia datang kepada kami, yaitu kabar bahwa saya sudah mengandung anak kedua. Saat itu kondisi kehamilan saya cukup memprihatinkan. Bukan karena janinnya yang bermasalah, tapi karena fisik saya yang lemah. Kalau orang Manado bilang, "mangidam jaha". Badan lemah, tensi darah rendah, selalu pusing, dan semua yang dimakan selalu dimuntahkan. Akhirnya suami yang menggantikan semua pekerjaan saya plus mengurus saya yang sedang terbaring lemah karena mengidam. Saleha pun mulai mencari perhatian. Akhirnya suami memberikan laptop yang sudah berisi video Upin Ipin, sehingga Saleha bisa anteng dan tidak rewel.

Setelah kehamilan saya menginjak 7 bulan, saya dan Saleha pulang ke rumah orangtua untuk melahirkan. Sesampainya di rumah neneknya, Saleha sudah melupakan gadgetnya. Mungkin karena dia saat itu jadi pusat perhatian dari nenek & kakeknya. Sering diajak jalan-jalan, dibelikan makanan dan mainan kesukaannya. Saleha benar-benar menikmati dunianya sebagai anak polos berumur 2 tahun. Sampai akhirnya saya melahirkan Sheraz, dan 3 bulan kemudian kami harus kembali ke Sulawesi setelah LDR-an cukup lama dengan suami.

Setelah kembali ke Sulawesi, kami kembali dengan kesibukan kami, mulai mengurus anak-anak, mengerjakan pekerjaan rumah sampai menjalankan program tarbiyat anggota. Disinilah gadget kembali mengambil hati Saleha. Karena kami merasa sibuk, kami pun memberikan Laptop yang berisi video Upin Ipin untuk ditonton oleh Saleha. Namun, kami belum menyadari bahwa Saleha sudah berumur 3 tahun. Dia sudah bisa mempertahankan keinginannya dan marah ketika keinginannya tidak terpenuhi. Selama sebulan, kami mengamati perubahan sikap Saleha. Saleha sudah larut dalam gadget. Ketika dipanggil namanya, dia tidak merespon. Dia pun sudah cuek dengan buku-buku dan mainannya. Bahkan ketika diajak jalan-jalan, mandi dan Shalat sekalipun, dia menolak dan memilih menonton Upin Ipin di Laptop. Ketika kami mematikan laptopnya, Saleha mengamuk dan marah-marah. Disitu saya merasa sedih dan menyesal. Kami pun mencari cara untuk membatasi kembali penggunaan laptop baginya.

Pertama, kami mematikan laptop pada waktu Shalat dan mengajak Saleha untuk ikut Shalat berjamaah. Tidak akan dinyalakan laptop kalau tidak ikut shalat. Walaupun pada kenyataannya Saleha tidak shalat khusyuk, masih jalan2 kesana kemari (tau lah ya anak 3 tahun gimana), setidaknya dia sudah teralihkan dari laptop. Awalnya dia menangis keras sampai berteriak, lama kelamaan dia sudah mulai tenang dan mau diajak.

Kedua, sebisa mungkin kami keluar rumah setiap hari. Kunjungan ke rumah anggota atau sekedar jalan-jalan, agar perhatiannya teralihkan. Awalnya dia menolak, namun mengingat bahwa dia akan ditinggalkan, dia pun mulai lunak dan mau ikut.

Ketiga, kami selalu membujuknya untuk bermain dengan tetangga yang sebaya dengannya. Ini sebenarnya paling mudah. Kami panggil anak tetangga masuk ke rumah, dan perhatian Saleha langsung teralihkan. Selama ini anak-anak tersebut yang selalu datang ke rumah sehingga saya pun dapat mengawasinya. Kalaupun keluar, hanya di pekarangan sekitar rumah. Dan otomatis rumah pun jadi berantakan dengan mainan dan buku-buku. Sering juga Saleha setelah bermain di luar masuk ke rumah dalam keadaan kotor bajunya/celananya. Namun, hal tersebut justru membuat saya tenang dan bahagia. Melihat Saleha tumbuh dan berkembang tanpa gadget, sehingga ia mampu bereksplorasi dan berkreasi.

Sampai saat ini kami bertahan untuk menghentikan pemberian gadget pada Saleha. Saleha pun sudah terbiasa, apabila lihat HP dan laptop sekarang dia sudah cuek. Kecuali kalau sedang ikut acara dia lihat temannya main HP, dia ikut nonton, tapi tidak lama. Dia lebih senang bermain dan bersosialisasi, meskipun dia cukup pemalu dan pendiam.

Kita tidak memungkiri keberadaan gadget di masa ini. Apalagi generasi Saleha pasti akan sangat lekat dengan gadget. Lambat laun seiring berjalannya waktu, Saleha pasti akan memiliki dan memanfaatkannya. Tapi bukan sekarang waktunya. Saleha masih kecil dan masih dalam masa-masa emas pertumbuhan/perkembangan. Kami ingin mengisi hari-hari Saleha dengan ingatan yang indah tentang masa kecilnya. Bukan berarti anak-anak lain yang full bermain gadget tidak memiliki kehidupan yang indah. Saya yakin mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas juga, sesuai didikan orangtuanya. Namun, pemberian gadget untuk Saleha sangat tidak efektif karena Saleha jadi kurang merespon, kurang bersosialisasi, dan emosional. Setiap anak pasti berbeda-beda. Mungkin ada yang merasa sangat efektif memberikan gadget, tapi Saleha tidak.

Saya pun tidak merasa paling sukses menghindarkan Saleha dari gadget. Dalam momen-momen tertentu misalnya saat saya menjadi pemateri dalam suatu acara atau ketika menghadiri undangan, saya masih menjadikan gadget sebagai pengalihan agar Saleha tidak bosan dan rewel. Dengan catatan: mode terbang dan hanya nonton video upin ipin (suara di mute/dikecilkan). Namun selesai acara, penggunaan gadget pun dihentikan. Sengaja saya sampaikan dengan gamblang bagaimana beratnya menjaga komitmen yang saya buat sejak dulu. Tarik-ulur pemberian gadget kepada Saleha adalah contoh nyata. Kasih gadget (selama 5 bulan)>>>berhenti total (selama 4 bulan)>>>kasih gadget lagi (selama 4 bulan)>>>berhenti total lagi (selama 5 bulan)>>>kasih lagi (selama 1,5 bulan)>>>berhenti total (sejak awal Maret 2019 sampai sekarang).

Prosesnya cukup lama dan berat, mengingat ini akan sangat emosional baik bagi ibu dan anak. Perjalanan kita masih panjang dan tentunya semua ibu ingin yang terbaik bagi anak. Ibu yang memberikan gadget dan ibu yang tidak memberikan gadget tetaplah ibu yang menyayangi anaknya. STOP Mom Shaming dengan membandingkan pola asuh kita dengan ibu yang lain. Disini saya hanya berbagi pengalaman siapa tau ada ibu yang sama prosesnya seperti saya.

Semangat ya moms..
Mudah-mudahan Allah memberikan karunia yang berlimpah untuk kita semua dan memberikan kesehatan dan kekuatan dalam mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang kita harapkan (generasi islam yang akan berkhidmat untuk agama). Aamiin

Tuesday, 26 March 2019

Two Days without You

Malam ini ingin sharing sedikit tentang pengalaman saya yang sebenarnya gak penting-penting amat. Tapi cukup oke lah sebagai penghias blog biar kelihatan banyak tulisannya. Karena beberapa waktu lalu sempat hiatus selama setahun dan membuat saya termotivasi untuk menulis apa saja yang penting ada. Sepintas nampaknya lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas ya?? Ya, gapapa. Mudah-mudahan ada hikmahnya. 😅

Jadi ceritanya saya sedang mengalami suatu krisis yang cukup membuat frustasi terutama bagi generasi milenial. Sudah bisa ditebak donk pastinya. Gak akan jauh-jauh dari gadget. 😁 Ya.. Saya sedang mengalami krisis kuota internet. 😆

Saya adalah pengguna setia salah satu provider sejuta umat (sebut saja T*LK*M*S*L 😂). Jadi, beberapa hari lalu saya cek kuota Flash saya tersisa hanya 150 MB. Dan mulai lah saya gelisah, padahal masa aktif paketnya masih seminggu lagi. Dan saya sadari juga karena bulan ini saya terlalu boros akibat sering di tethering dengan Laptop karena urusan pekerjaan, buka Instagram dan nonton video di YouTube (sok nya ibu yang satu ini,, ga mau buka YouTube Go-yang notabene lebih hemat data-dengan alasan pengen nonton sambil baca-baca komentarnya.. Ya Ampun 😑), sehingga mau tak mau sebelum waktunya, kuota udah habis. Mau bilang ke suami untuk beli paket data lagi, malu. Karena dia punya awet banget. Hehehe

Akhirnya saya memutuskan untuk pasrah dan tidak akan melakukan usaha apa-apa untuk menambah kuota. Walaupun sebenarnya seringkali buka MyTelkomsel berharap ada keajaiban bisa dapat 2GB cuma-cuma tanpa perlu ikut program Daily Check-in selama 30 hari itu lho (hehhe, ngarep). Meskipun pasrah, tapi hati gelisah juga. Frustasi dan ingin segera isi ulang pulsa. Ya Ampun, segitunya ya pengaruh gadget bagi saya?? Jujur saja, ini bukan tentang wara-wiri di medsos atau nonton video, tapi semua pekerjaan saya di organisasi semua bergantung pada WhatsApp Messenger, baik WA grup maupun WA pribadi. Sudah tidak ada lagi SMS atau Telepon manual, semua sudah via online.

Akan tetapi, hati kecil saya ingin mencoba merasakan bagaimana menjalani hidup tanpa gadget samasekali. Penasaran juga. Akhirnya sampai habis kuota, saya pun memutuskan untuk tidak mengisinya. Siang dan sore hari pertama saya lalui dengan rasa penasaran. Buka-buka ponsel padahal tidak ada notifikasi apa-apa. Sampai buka-buka ponsel suami, ingin browsing. Cuma masalahnya, ponsel suami ini udah lama banget, Samsung Galaxy Note 2. Jadi, fungsinya pun sangat lambat dan jadul. RAM 2GB, jaringan 3G. Heran, kenapa dia mampu bertahan selama hampir 5 tahun dengan ponsel itu? Tapi, walaupun dia sudah pakai selama itu, body nya masih mulus aja, dibanding Smartphone saya yang baru dipake setahun (duh,, ku ingin mengadopsi sifatnya yang apik ituu 😭). Hanya sampai dua jam, saya sudah menyerah melihat layar ponsel suami yang datar banget isinya. Wallpapernya pun cukup menyebalkan karena dia pasang foto kami berempat, tapi penampakan saya bukan yang terbaik. Ketika disuruh ganti wallpaper dia tak mau karena katanya cuma itu foto yang lengkap berempat 😑.

Menyerah dengan HP suami, saya pun beralih kembali ke HP saya. Karena saya masih punya 300 lebih kuota SMS tersisa, maka saya iseng saja kirim SMS ke beberapa orang. Isi sms nya cukup penting dan saya rasa kalau di WA akan segera dibalas. Tapi ternyata tidak ada satupun yang balas 😂. Wah, pantas saja selama ini yang SMS saya hanya provider, kode verifikasi akun, dan pesan-pesan sejenis "papa minta pulsa". Saya pun mulai menyadari kehadiran SMS ketika tak ada kuota data, karena selama ini kalau ada SMS sering saya skip karena spam.

Akhirnya sore itu saya membereskan rumah karena Sheraz sedang tidur, dan rumah sangat berantakan dengan mainan Saleha. Saya minta Saleha membereskan mainannya dengan mengambil kardus dan menyuruh Saleha melemparkan mainannya ke dalam kardus sambil membelakanginya. Saya memegangi kardus tersebut dan mengikuti arah kemana Saleha melemparkannya. Setiap lemparan yang tepat mengenai kardus, saya berjanji untuk mencium kedua pipi Saleha dan Saleha pun berhak mencium kedua pipi saya. 😍 Ini pertama kali bagi kami melakukan permainan tersebut, dan saya melihat Saleha sangat menikmatinya. ❤ Akhirnya semua beres. Saya lega karena tidak membutuhkan tenaga berlebih untuk membereskan mainan Saleha seperti biasanya.

Kemudian suami mengajak keluar, dan bertanya-tanya kenapa saya tidak bawa HP? Biasanya selalu bawa. Saya jawab saja dengan ringan kalau kuotanya sudah habis. Suami pun pasang wajah heran. Di wajahnya tersirat beragam pertanyaan, "aneh, koq gak gelisah? Koq gak minta belikan pulsa? Koq gak ini? Koq gak itu?" 😁 Saya cuek saja. Dan malam itu rasanya cukup singkat karena jam 9an saya sudah tertidur pulas. Tanpa cek-cek HP sebelum tidur. Dan keesokan harinya bangun pun cepat.

Hari kedua tanpa gadget, seharian saya mengerjakan pekerjaan rumah, bermain bersama anak-anak dan bercengkrama dengan suami. Membersihkan seisi rumah dan melakukan lebih banyak gerakan dibanding biasanya. Membongkar lemari yang berantakan dan menyusunnya kembali dengan rapi. Bahkan mengulangi permainan beres-beres mainan seperti kemarin dengan Saleha di pagi hari. Kemudian sore hari Saleha mulai mengeluarkan lagi mainannya. Setelah ia selesai bermain, saya menyuruhnya membereskan mainan, dan dia melakukannya sendiri dengan cara yang sama. Bedanya, saya tidak memegangi kardusnya. Ketika semua mainan sudah terkumpul semua, Saleha mendatangi saya dan lapor bahwa mainannya sudah dibereskan. Dia minta dicium kedua pipinya. 💗💗💗 Masya Allah, saya terharu karena jujur saja selama ini Saleha selalu tidak mau disuruh bereskan mainan, sehingga saya sering memunguti mainan yang berserakan sambil ngomel-ngomel dan ujung-ujungnya kelelahan sendiri. 😅

Selepas Shalat Maghrib, saya pun bercerita kepada suami kalau saya merasa dua hari ini hidup saya lebih tenang dan nyaman. Pikiran dan fisik lebih fresh seolah tak ada beban. Saya merasa hidup ini adalah dunia yang nyata seutuhnya. Kebersamaan bersama keluarga pun semakin terasa. Hal inilah yang sudah mulai terlupakan. Selama ini saya sibuk memposisikan diri saya sebagai "orang penting" di bidang saya, sehingga merasa bahwa saya harus pantengin terus WA grup, medsos, dll, takut ada informasi yang tertinggal. Saya lupa bahwa saya punya anak-anak yang hatinya masih bersih, yang ingin hatinya diwarnai dengan kasih sayang dan kemesraan dari orangtuanya. Dua hari tanpa internet membuat saya menyadari bahwa saya justru telah melupakan sesuatu yang sangat berharga, yaitu "keberadaan orang terdekat".

Tak beberapa lama HP berdering, dan ternyata Ny. Mimi menelepon, katanya sejak semalam beliau kirim WA ke saya, ada revisi laporan yang harus saya lihat, tapi WA saya gak aktif-aktif. Saya pun tertawa dan mengakui bahwa saya kehabisan kuota. Mengingat pentingnya WA tersebut, saya pun memutuskan untuk membeli kuota lagi. Hehehe. Memang ya, zaman sekarang internet tak terhindarkan. Karena semua pekerjaan sudah serba online dan komunikasi pun sudah lewat internet. Salah juga apabila kita memutuskan untuk tidak memanfaatkannya sama sekali. Akan tetapi, bagaimana cara kita memanfaatkannya, itu yang terpenting.

Mulai sekarang saya pun bertekad untuk lebih bijak menggunakan internet. Menggunakan sesuai kebutuhan, dan banyak-banyak berhemat karena malu juga, suami lebih hemat penggunaannya. Abahnya Saleha memang benar-benar menggunakan gadget sesuai keperluannya. Patut dicontoh caranya membagi waktu antara gadget dan aktifitas lainnya.

Berusaha menghindari hal-hal yang sia-sia, contohnya scrolling timeline gak jelas dan stalking akun orang lain, apalagi sampai update status yang isinya keluhan-keluhan atau bahkan luapan kemarahan (jangan sampai 😷). Mudah-mudahan internet bisa menjadi sarana bagi kita untuk lebih produktif dalam mengembangkan minat dan bakat yang kita punya. Aamiin

Heyyy internet! Ternyata, "Two Days without You" memberikan pelajaran yang luar biasa ya.. Terimakasih banyak atas pengalaman yang berharga ini. 💗💗💗

***

NB: Saat tulisan ini diposting di blog, sudah tengah malam, karena saya cuma punya kuota malam. Karena memang akhir bulan, jadi belinya kuota malam saja.. hehehhe.. Insya Allah akan ada tulisan review saya tentang penggunaan kuota malam. Apakah efektif bagi saya? 😁

Monday, 18 March 2019

"Ibu yang Baper," katanya

Baru selesai berkunjung ke blog nya Bibi Titi Teliti.. Blog ini memang sering saya pantengin sejak dulu.. Gaya bahasanya yang ringan dan cukup 'receh' menjadi nilai plus yang membuat saya tidak bosan membaca semua tulisannya.. Baru-baru ini Teh Erry (sang author) membagikan ceritanya tentang ke-baper-an seorang ibu yang menghadapi putranya yang berusia 9 tahun..

Jadi, ternyata kebanyakan ibu memiliki sudut pandang yang hampir sama mengenai anak-anaknya.. Mereka sudah tahu dan sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi perkembangan anak mereka yang lambat laun akan mulai membuat jarak terhadap ibunya.. Akan tetapi, ketika saatnya tiba, mereka pun mulai galau dan terbawa perasaan.. Seolah tidak siap dengan hal tersebut..

Saya memang belum pernah mengalaminya mengingat bahwa Saleha masih berumur 3 tahun.. Namun saya sangat tertarik dengan bahasan ini, dengan maksud agar saya pun mempersiapkan diri seandainya suatu saat saya berada dalam posisi tersebut..

Saya selalu ingat tentang adik bungsu saya yang usianya terpaut 9 tahun dari saya.. Ibu saya selalu memperlihatkan kasih sayangnya dengan menggendongnya, memeluknya saat tidur, dan membelai kepalanya.. Hal itu wajar karena dia masih balita saat itu.. Namun tiba suatu ketika dimana adik saya mulai menjaga jarak dengan ibu.. Ketika sebelumnya ibu saya menunggu di sekolah hingga ia keluar, kemudian ia melarangnya.. Ketika ibu saya ingin menggandeng tangannya saat berjalan, ia pun selalu melepaskannya.. Karena ia mulai merasa dewasa dan malu ketika ibunya memperlakukannya sebagai anak kecil.. Namun disaat seperti ini, justru banyak ibu yang baper, sedih dan galau.. Dan mungkin kalau terjadi pada saya, saya pun akan merasakannya..

Maka Teh Erry berpesan dalam tulisannya untuk selalu menikmati momen saat bersama anak sejak kecil.. Ketika anak mulai banyak tingkah, yang bahkan membuat jengkel.. Ketika semua mainan dikeluarkan dan sulit untuk dirapikan kembali.. Ketika anak menangis dan mencari kita sebagai sandaran.. Momen itu lambat laun akan menghilang seiring perkembangan anak..

Bahkan dalam hal yang sepele pun seperti menggendong anak.. Saya sekarang memang sedang kewalahan karena anak kedua saya memiliki bobot yang lebih berat dibanding Saleha dulu.. Disamping itu, anak-anak saya memang selalu ingin digendong (red: terbiasa digendong).. Ketika bertemu orang lain, banyak yang bilang anak saya "bau tangan", atau "kebiasaan digendong sih".. Bahkan banyak yang mengasihani saya karena kelihatannya lelah selalu menggendong anak.. Namun saya memiliki perspektif yang berbeda dalam hal ini.. Saya merasa menggendong anak saya adalah suatu kenikmatan tersendiri karena suatu saat kegiatan ini hanya akan menjadi kenangan.. Setelah mereka besar dan fisik sudah mulai rapuh, hampir tidak mungkin menggendong mereka..

Banyak hal-hal kecil yang mungkin suatu saat akan menghilang dan tak mungkin untuk dikembalikan.. Namun akan menjadi kenangan yang sangat membahagiakan apabila kita melakukannya dengan benar sejak awal..

You can learn many things from children. How much patience you have, for instance.

~ Franklin P. Jones

Friday, 1 March 2019

Beragam Suku yang ada di Sulawesi Utara

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Sulawesi Utara pada bulan Agustus 2013. Dan itu adalah kali pertama saya melakukan perjalanan dengan orang baru yang akan terus saya temui setiap hari dan yang selalu dilihat pertama kali saat pagi hari (😅 deskripsinya kepanjangan.. maksudnya itu 'suami')..

Dulu saya beranggapan bahwa penduduk asli Sulawesi Utara hanya satu jenis saja, yang kulitnya putih, perawakannya tinggi besar dan mulus-mulus.. Ternyata,,, tak sesederhana itu.. Mungkin inilah realisasi dari pepatah "Experience is the best teacher".. Karena kalau saya tidak terjun langsung dan mengalaminya, mungkin saya tidak akan pernah tahu secara mendetail keragaman suku bangsa Indonesia ini..

Tahun lalu saya sempat share mengenai suku yang ada di Sulawesi Utara di IG Story, dan responnya lumayan ramai.. Ada beberapa yang DM dan meminta untuk dibuat tulisan lengkap tentang ini.. Akan tetapi karena kesibukan tak berujung dan banyaknya agenda tanpa henti (read: belum ada mood untuk nulis 😂), jadi baru bisa nulis lagi sekarang.. Bisa dilihat dari penampakan blog saya yang sudah lumutan dan penuh sarang laba-laba.. Terakhir nulis tahun 2017 (Lama bangettt.. malu 😳😣)..

Oke kembali ke bahasan Suku.
Sudah sering dengar pastinya kan yaaa, kalau orang-orang Sulawesi Utara terkenal Cantik-cantik dan Percaya diri.. That's right..
Di postingan kali ini saya akan membahas mengenai suku-suku yang ada di Sulawesi Utara.. Namun, ini hanya sebatas yang saya ketahui dan saya temukan saja.. Mungkin sebenarnya ada banyak lagi suku disini yang belum saya ketahui..

***********

1. Suku Mongondow

Suku yang pertama kali saya ketahui dan berinteraksi langsung dengan saya adalah suku Mongondow.. Ya, karena tempat tugas suami saya berada di Kab. Bolaang Mongondow, tepatnya di Desa Konarom, Kec. Dumoga Tenggara.. Lokasinya cukup jauh dari Ibukota Provinsi.. Sekitar 4-5 jam perjalanan darat dari Kota Manado..

Pasti banyak yang belum mengenal Suku Mongondow ya? Yuppp, saya juga baru tahu ada nama Suku Mongondow setelah berada disini.. Dan ini benar-benar pengalaman yang luar biasa bagi saya, bisa mengenal dan berinteraksi dengan Suku Mongondow..

Jadi, Suku Mongondow adalah Suku asli di Sulawesi Utara.. Dahulu ada sebuah kerajaan yang bernama Bolaang Mongondow.. Kalau mau lihat sejarahnya, silahkan Googling saja.. 😊
Mayoritas suku Mongondow beragama Islam..

Bila teman-teman mendengar nama orang seperti Mokoagow, Manopo, Mokodompit, Pontoh, Mokodongan, Damopolii, Mutu, Bahansubu, Mokoginta, Mamonto, yakinlah bahwa mereka adalah Suku Mongondow..
Di Sulut, nama keluarga disebut, "FAM".. Saya sempat berpikir, mungkin ini diambil dari bahasa Inggris Family?
Sama seperti "Marga" di Batak, nama keluarga di Sulut disematkan secara turun temurun melalui garis keturunan laki-laki..

Suku Mongondow sangat menjunjung tinggi "Bobasaan" (read: bo-ba-sa-an) yaitu 'cara menyampaikan sesuatu.. Misalnya, kalau mau mengundang seseorang untuk suatu acara, harus datang langsung ke rumah orang tersebut dan menyampaikan maksudnya dengan bahasa yang jelas dan baik.. Pada intinya, suku Mongondow sangat menjunjung tinggi komunikasi antar sesama, jangan sampai ada kesalahpahaman.

Suku Mongondow khususnya, dan warga Sulawesi Utara umumnya, sangat senang berkumpul dan membuat acara-acara.. Jarang sekali acara dilaksanakan di Gedung dengan Catering/EO.. Kebanyakan acara seperti pesta,dll dilaksanakan di halaman rumah, dan yang memasak dan menyiapkan segala macam akomodasinya adalah para tetangga.. Tak heran jika suku Mongondow sangat menjaga hubungan bertetangga..

Suku Mongondow pun sangat cinta kebersihan.. Ini nyata, karena selalu saya lihat disini orang-orang senang bersih-bersih rumah, dari mulai pekarangan hingga ke dalam rumah.. Mereka punya slogan "Lipu Modarit, Lipu Mosehat" (Kampung bersih, Kampung sehat).. Kota Kotamobagu sudah beberapa kali mendapatkan piala Adipura hingga tahun 2018 ini..

Untuk bahasa memang cukup sulit, karena sangat jauh dengan bahasa kami.. Akan tetapi kami paham sedikit..
Ciri khas bahasa mongondow, huruf "R" dibaca samar seperti pengucapan R dalam bahasa Inggris.. Dan beberapa kata di Sulut adalah serapan dari bahasa Inggris..
Contoh:
Selimut = Blanket
Garpu = Fork
Korek Api = Matches, dll

Itu beberapa bahasa populer di Sulut..
Kalau bahasa asli mongondow contohnya seperti ini:
Moloben (dibaca 'moroben' dengan pelafalan R seperti bahasa Inggris) = Besar.
Mointok = kecil
Molunat = cantik
Mopatu = panas/gerah
Mongaan = makan
Dll..

Untuk masakan, jangan ditanya.. Masakan mongondow luar biasa lezat nyaa.. Lidah saya sangat cocok dengan masakan Sulut. Masakan Sulut kaya akan rempah-rempah dan citarasa pedas.. Makanannya membangkitkan selera.. Yang suka wisata kuliner, saya sangat rekomendasikan makanan khas Sulut.. nilainya 10/10👍👍👍
Ada beberapa masakan khas Sulut yang sudah bisa saya buat sendiri: Ikan Woku Blanga, Sayuran santan, Bubur Manado, Ikan Cakalang fufu Saus, dll..
Adapun masakan yang sangat saya sukai tapi belum coba masak sendiri:
Sambal (perpaduan kentang, kacang tanah, dan daging/ikan, digoreng pakai bumbu khas),
Rica-rica (Baik ayam, daging kambing, danging sapi),
Asam manis (sebenarnya gampang, tapi saya belum coba buat),
Sate garo (daging dipotong dadu2 dengan bumbu kacang khas, rasa bumbunya sangat berbeda dengan sate madura atau sate lainnya),dll..

Mungkin untuk kuliner akan saya buatkan thread khusus nantinya, karena Sulut sangat kaya dengan kuliner khas yang menggugah selera..

2. Suku Minahasa

Kalau suku ini pasti sudah sering dengar kan ya?? 😊 Yupp, suku Minahasa sangat identik dengan Manado, karena suku tersebut tinggal di Manado dan sekitarnya.. Suku Minahasa merupakan suku yang dominan di Sulut..

Suku minahasa memiliki ciri khas yang menonjol secara fisik.. Berbeda dengan warga Indonesia pada umumnya yang berkulit sawo matang dan perawakan mungil/standar, orang-orang di suku Minahasa berkulit putih dan perawakannya tinggi besar.. Selain itu kulit mereka rata-rata sangat mulus..

Sangat jarang kita temui suku Minahasa yang berkulit gelap, kecuali memang campuran dari suku lain atau terkena sinar matahari yang berlebih..

Tidak berbeda jauh dengan Suku Mongondow, orang-orang Minahasa senang berpesta dan bergotong-royong, membuat berbagai acara dan makan bersama..

Kalau saya perhatikan, baik Suku Mongondow dan Minahasa, mereka mudah sekali mengakrabkan diri.. Banyak berbicara dan bercanda.. Seringkali kalau kami datang ke suatu tempat yang sama sekali tak ada orang yang kami kenal, kami tak pernah merasa bosan.. Karena disana kami bertemu orang-orang dan mendengarkan mereka bercerita.. Kami tertawa bersama dan menikmati candaan mereka.. Padahal, itu mungkin pertama dan terakhirnya kami bertemu,, tapi rasanya sudah sangat dekat..

Membicarakan hal-hal yang tabu (bagi kami) adalah hal yang sudah biasa dibicarakan oleh mereka.. Mungkin karena mereka memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, yang jarang dimiliki oleh orang lain.. Namun, hal itulah yang secara tak langsung membuat kami merasa dekat meski baru pertemuan pertama..

Orang Minahasa terkenal sangat pandai memasak.. Kita sering mendengar, apapun bisa dimakan oleh mereka.. Saya sering bertanya-tanya, "bagaimana mungkin mereka memakan semua hewan itu? Yang baunya anyir dan sepertinya tidak enak."
Kuncinya adalah pada bumbu masakannya.. Ya, orang minahasa terkenal bisa membuat bumbu masakan yang luar biasa.. bisa menghilangkan bau anyir dan membuat hewan tersebut enak dimakan.. Saya tidak pernah ikut merasakan, hanya dengar saja.. (Karena kami punya batasan mengenai hewan yang halal dan haram)

Baik suku Mongondow maupun Minahasa sangat memperhatikan penampilan.. Mereka sangat modis dan fashionable.. Bahkan di desa-desa mereka tak ketinggalan tren fashion.. Apapun yang mereka kenakan nampak cocok bagi mereka,, tidak terlihat norak sama sekali..
Begitupun dengan make up..  Kebanyakan dari mereka senang memakai make up dan merawat wajah dan tubuh mereka.. jadi, selalu terlihat bersih dan tidak kusam.. Saya salut dengan orang Sulut yang piawai dalam menjaga kebersihan diri.. Mereka wangi dan selalu terlihat fresh.. 👍👍👍

Nah untuk FAM minahasa yang saya tahu: Mandagi, Tawaa, Masengi, Sondakh, Karamoy, Wowor, Haling, Tahari, Sigar, Tambayong, Tuuk, Tahari, dan banyak lagi yang lainnya.. Biasanya selebritas tanah air dari Sulut kebanyakan orang Minahasa..

3. Suku JaTon

Nah, ada yang namanya suku Jaton ya?? Yuppp.. Jaton adalah singkatan dari Jawa-Tondano.. Tondano adalah nama tempat di daerah Minahasa.. Ini menarik karena suku ini merupakan campuran dari suku Jawa dan Minahasa yang kemudian menjadi suku tersendiri.. Masya Allah.. Indonesia kaya ya??? 🇮🇩

Sejarah singkatnya adalah pada zaman penjajahan Belanda, penasihat setia Pangeran Diponegoro, yaitu Kyai Modjo diasingkan oleh Belanda ke tanah Minahasa.. Kalau kita sering baca sejarah, kita pasti tahu betul bahwa Sulawesi Utara dahulu sering dijadikan tempat pengasingan para pejuang.. Kemudian, para pejuang yang diasingkan ini berbaur dengan suku asli setempat dan mulai melakukan pernikahan sehingga menghasilkan banyak keturunan.. Hal inilah yang mendasari terbentuknya suku Jaton..

Setelah suami dimutasi ke Desa Doloduo II, Kec. Dumoga Barat, 2 tahun lalu, maka kami pun banyak bergaul debgan suku Jaton.. Suku Jaton juga memiliki nama keluarga/ FAM,, diantaranya Kiay Modjo, Kiay Mastari, Tajeb/Thayeb, Mashanafi, Lakoro Maspeki, dll

Karena memiliki darah pejuang, orang Jaton memiliki kemauan yang keras dan semangat yang kuat.. Kebanyakan orang jaton sangat vokal dan cerdas..

4. Suku Gorontalo

Meskipun Gorontalo merupakan provinsi diluar Sulawesi Utara, namun dahulu Gorontalo merupakan bagian dari Sulut, sehingga keberadaab suku Gorontalo di Sulut sudah seperti suku asli.. Contohnya di daerah Bolaang Mongondow Selatan perbatasan dan Bolaang Mongondow Utara perbatasan, nama-nama tempat dan bahasa diambil dari nama-nama atau bahasa Gorontalo..

Suku Gorontalo memiliki legenda yang menyebutkan bahwa leluhur mereka berasal dari keturunan hulontalangi, atau orang yang turun dari langit, dan awalnya berdiam di gunung Tilongkabila, Bone Bolango.. Nama Hulontalangi kemudian berubah menjadi Hulontalo dan Gorontalo..

Suku ini memiliki bahasa dan dialek tersendiri, namun sampai saat ini saya belum paham bahasanya.. Mayoritas suku Gorontalo beragama Islam.. Dan seperti suku lainnya, mereka senang bergotongroyong dan memiliki jiwa sosial yang tinggi..

Untuk makanan khas nya tak kalah juga.. Saya sangat menyukai Binthe Biluhuta atau biasa disebut Milu Siram,, dan Ilabulo (orang mongondow menyebutnya Inambal).. ilabulo ini enak sekali, suami saya sampai punya penjual langganan.. harganya pun murah.. hanya 3ribu..

Bila penasaran,, silahkan googling dulu . Hehehheeh

5. Suku Sangir (dibaca Sanger)

Suku sangir merupakan suku asli di Sulawesi Utara.. Orang sangir membangun perkampungan di tepi laut dekat muara sungai.. Sebagian lagi memilih tinggal di lereng-lereng bukit atau pegunungan.. Kebanyakan bekerja sebagai nelayan di laut, dan sebagian memperoleh hasil pertanian di ladang..

Orang sangir dikenal sangat pemberani dan menguasai lautan.. Memang suku sangir banyak berdiam di kepulauan-kepulauan di daerah Sulut.. itu lhoo,, yang pulau-pulau kecil dekat Philipina.. hebat yaaa?

Tak banyak yang saya ketahui tentang suku sangir, hanya ada dua orang kakak beradik yang saya kenal bermarga Hontong..

***********

Selain suku-suku Asli di Sulawesi Utara, banyak juga suku pendatang yang merantau dan tinggal disini.. Jumlahnya pun sangat banyak, yaitu Suku Bugis, suku Jawa, Bali, dan bahkan Sunda pun ada.. 😊

Suami saya pun pernah bertemu dengan Suku Borgo, suku asli keturunan Portugis..

Kalau sering lihat videonya pak Presiden RI (Jokowi) saat blusukan, Jokowi sering menyebutkan ada begitu banyak Suku di Indonesia, dan selalu meminta menyebutkan 5 saja yang kita ketahui.. Seandainya saya ikutan, mungkin saya bisa dapat sepeda.. hehehehhe

Sangat bersyukur bisa tinggal dan menetap disini.. Banyak ilmu yang kami dapatkan dan pengalaman yang tak ternilai harganya.. Keberagaman bangsa Indonesia merupakan kekayaan yang harus kita syukuri bersama..

Tuhan begitu kuasa menciptakan bangsa yang sangat beragam ini.. Dengan berbagai bahasa, karakter, dan kebudayaannya, namun bisa membentuk satu bangsa yang besar.. Salut kepada pemimpin negeri yang mampu mengayomi semua kalangan tanpa memandang suku, bahasa dan agama..

Semakin kita menggali, semakin banyak yang kita temukan..

Cinta Sulawesi Utara, Cinta Indonesia 💗💗💗💗💗

*Nb: ingin nambah foto-foto tapi harus cari2 dulu di memori 😁

Tuesday, 24 January 2017

Marie Eugenie vs Marie Anne: Kecemerlangan vs Kekurangan

Di postingan kali ini saya akan menyuguhkan dua kisah yang akan dijadikan perbandingan

Kisah tentang Marie Eugenie istri dari Napoleon III

Marie Eugenie Ignac Agustine de Montiyo adalah wanita paling cantik di selruh dunia pada masanya. Ia merupakan anak dari Adipati Spanyol yang tak begitu terkemuka. Kejelitaan, keindahan, dan sikapnya yang menawan membuat Napoleon III dari Prancis jatuh cinta padanya.

Naoleon  dan permaisuinya danugerahi kesehatan yang baik, dicintai, dan dikagumi. Naoleon berhail menjadikan Eugenie seorang maharatu. Namun, Marie Eugenie memiliki sifat iri dan dengki yang tak dapat disembuhkan bahkan oleh cinta, kekuasaan, dan singgasananya.

Marie Eugenie menjadi setengah gila karena iri hati dan cemburu. Ia tenggelam dalam kecurigaan dan menolak usul-usul suaminya. Raja Napoleon III tak bisa sendirian karena dimanapun ia berada, Eugenie harus selalu ada di sampingnya. Jika sang Raja sedang membicarakan urusan-urusan negara di ruang kerjanya, Eugenie memaksa harus masuk. Ia takut sang Raja menaruh hati pada wanita lain.

Kadang-kadang ia mengadu pada kakak perempuannya tentang suaminya. Ia menangis dan mengancam-ngancam. Ia pun meyerbu masuk ke kamar suamiya dan membuat kegaduhan. Ia meghina-hina suaminya. Napoleon pemilik sepuluh istana, tak mempunyai suatu lemaripun yang ia bisa kuasai sendiri.

Maka dari itu, Napoleon pada malam hari kadang-kadang meninggalkan istananya, lewat pintu belakang. Ia mengenakan topi vilt yang ditutupkan di atas matanya, dan bersama kepercayaannya mengunjungi seorang wanita yang menunggunya. Akan tetapi, kadang-kadang ia pun seperti masa-masa dulu. Menjelajahi lorong-lorong sambil merenungkan nasibnya yang malang itu.

Kisah tentang Mary Anne, istri Disraeli

Disraeli menjadi bujangan hingga umur 35 tahun di Inggris. Kemudian ia menikahi janda kaya yang umurnya 15 tahun lebih tua darinya. Rambutnya sudah putih karena sudah berumur 50 tahun. Tidak muda, tidak cantik, dan tidak juga intelek. Sebaliknya, Mary Anne selalu mengalami kesalahan saat berbicara di bidang grammatika dan sejarah, sehingga banyak yang menertawakannya. Ia tak tahu, mana yang lebih dulu muncul di panggung sejarah, orang-orang Yunani atau Romawi.

Pakaiannya agak aneh, rumahnya juga aneh. Orang-orang melihatnya sebagai orang yang bodoh. Namun, dalam pernikahan, ia cukup gemilang. Ia tahu bahwa ia tak cukup pintar seperti suaminya. Jika Disraeli pulang dari memperbincangkan urusan-urusan negara, agak muram dan tak bersemangat, maka Mary Anne tak mengganggunya dengan pertanyaan yang bukan-bukan. Ia mempersilahkan suaminya beristirahat. Rumahnya menjadi tempat bagi suaminya untuk melepas lelah dan mengistirahatkan otaknya. Disraeli merasa bahagia jika berada di rumah bersama istrinya.

Mary Anne adalah pembantu, kepercayaan, dan penasihatnya. Setiap malam Disraeli cepat-cepat pulang dari parlemen untuk menyampaikan berita hangat kepada istrinya. Istrinya selalu memberikan dukungan dan semangat pada suaminya.

30 tahun lamanya, Mary Anne hidup semata-mata untuk Disraeli. Ketika diangkat menjadi Lord, Disraeli memeluk istrinya dan berkata, "Sayangku, sekarang engkau adalah Lady Beaconfield."

Betapapun bodoh dan anehnya istrinya itu, Disraeli tidak pernah berkata apa-apa. Tak pernah ia menunjukkan kesalahan-kesalahan istrinya walau dengan satu kata pun. Mary Anne dan Disraeli, saling memuji satu sama lain. Tak ada yang merasa dikekang. Tak ada pula yang ingin merubah sifat yang lain.

----------

Dari dua kisah diatas kita bisa membandingkan, bahwa harta dan kekuasaan bukanlah tolok ukur kebahagiaan. Harta dan kekuasaan tak mampu menyembuhkan sifat iri hati dan cemburu seseorang. Kejelitaan dan keindahan paras tak bisa mengobati perasaan tertekan.

Kisah Marie Eugenie cukup menjadi bukti nyata, bahwa api cinta yang membara di awal lambat laun akan redup dan menyisakan abu. Pasangan paling serasi yang diidamkan justru saling merasa kesepian. Masing-masing merasa tertekan. Yang satu tertekan oleh kecemburuan, yang satunya lagi tertekan oleh pengekangan. Membaca kisahnya menimbulkan kesedihan dan rasa iba yang mendalam.

Lain halnya dengan Mary Anne, yang dengan segala kekurangannya, ia mengantarkan suaminya menuju gerbang kesuksesan. Kulitnya yang sudah keriput termakan usia justru menjadi pelepas lelah suaminya. Bahkan kebodohan dan ketidak-tahuannya tak membuat suaminya malu dan bahkan tak ingin merubahnya. Bukankah kisah kedua ini yang menjadi dambaan kita semua?

I Know You Love Me When .....

Sore ini suami mengajak saya untuk keluar bersama. Saya pikir kami akan jalan-jalan ke suatu tempat dengan pemandangan indah, atau mengajak makan diluar, atau bahkan berbelanja (#ngarep). Tapi nyatanya suami mengajak keluar hanya untuk membeli pulsa, dan setelah itu pulang lagi. Itulah suami saya. Kemanapun ia pergi, pasti selalu mengajak saya (dan Saleha tentunya) walaupun hanya untuk beli pulsa.

Sekilas nampak aneh. Bayangkan saja. Kemanapun dia pergi, pasti istrinya harus ikut (kecuali ke tempat-tempat yang tidak memungkinkan bagi saya untuk ikut, seperti majlis-majlis atau perkumpulan khusus laki-laki). Bahkan terkadang saya merasa tak ingin ikut karena berpikir, "ah cuma kesana, dia juga bisa sendiri. Koq, protektif sekali?"

Menghadapi situasi seperti ini saya jadi ingat pada buku yang pernah saya baca. Buku pemberian seorang kawan sebagai hadiah pernikahan kami. Gary Chapman menulis sebuah buku tentang pernikahan berjudul The Five Love Languages (Lima Bahasa Kasih). Saya pun mencari kembali di rak buku dan membacanya lagi.

Dalam buku tersebut, ada lima cara orang menyampaikan cinta dan kasih sayangnya. Cinta bukan hanya sekedar diucapkan, tapi juga dipraktekkan dalam sikap terhadap pasangan. Penyampaian bahasa kasih dengan cara-cara yang berbeda seringkali menimbulkan kesalah pahaman dan pertengkaran apabila pasangan tidak menyadarinya.

Lima Bahasa atau Lima Cara Penyampaian cinta tersebut, diantaranya:

1. Kata-kata Pendukung (Pujian)   
  Seseorang mengungkapkan kasih sayangnya dengan memberikan pujian dan kalimat-kalimat yang menyenangkan. Bisa jadi juga kalimat rayuan atau kalimat bernada romantis. Ada beberapa orang yang senang sekali memuji pasangan. "Kamu begitu cantik," "Kamu adalah satu-satunya yang kucintai," "Aku sayang kamu," "Aku selalu mendukungmu." "Aku akan menjadi pelindungmu," "Tak ada perempuan lain di hatiku selain kamu."
Bagi beberapa orang, hal itu hanyalah "rayuan gombal" atau hanya bualan. Tapi bagi beberapa yang lain, itulah bahasa cinta mereka. Memuji pasangan dan memberikan kalimat-kalimat yang menyenangkan, adalah salah satu cara untuk mengungkapkannya.

2. Saat-saat yang Mengesankan (Waktu yang Berkualitas)
     Mereka yang memiliki bahasa kasih ini mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya dengan menghabiskan waktu bersama pasangan. Sekedar duduk-duduk bersama pasangan sambil menonton televisi sudah cukup bagi mereka. Pergi bersama pasangan ke suatu tempat dan makan bersama, adalah bentuk perwujudan rasa sayangnya. Mengajak mengobrol 5-10 menit sebelum tidur sembari bertatapan, sudah sangat mengaduk-aduk hatinya. Inilah bahasa kasih mereka. Yang mungkin bagi beberapa orang dianggap sesuatu yang biasa saja, namun bagi mereka, inilah cinta yang mereka sampaikan.

3. Memberikan Hadiah
     Sering melihat pasangan yang selalu memberi bunga? Pasti. Inilah bahasa kasih mereka. Hadiah. Mereka merasa, bahasa cintanya akan tersampaikan jika mereka memberikan sesuatu pada pasangan. Memberikan bunga mawar, memberikan apa yang sedang diinginkan pasangan, bahkan sampai membuatkan dengan tangannya sendiri. Bahasa kasih ini memang paling sering membuat wanita meleleh. Siapa yang tak suka hadiah? Tapi ada juga beberapa orang yang tidak suka diberi hadiah.

4. Pelayanan
     Memijat kaki istri, menyiapkan air hangat untuk mandi istri, memperlakukan pasangan seperti raja/ratu. Ya, inilah bahasa kasih mereka. Mereka mengungkapkan kasih sayangnya dengan melayani pasangan. Seringkali sang suami meminta istri untuk diam saja, dan dia yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Memijat kaki istrinya yang sedang lelah. Mengambilkan sepatu istri dan memasangkannya saat akan pergi keluar. (Saya nulis part ini langsung merinding.. What a beautiful husband..)

5. Sentuhan Fisik
     Mungkin ini bahasa kasih yang cukup banyak dipraktekkan. Seseorang mengungkapkan cintanya dengan menyentuh pasangannya. Memegang tangannya, mencium keningnya, memeluknya, bahkan menggandengnya saat berjalan bersama. Orang pasti bisa melihat bahwa ini jelas-jelas ungkapan cinta. Orang yang memiliki bahasa kasih ini tak akan segan menunjukannya di depan orang lain. Namun orang yang bahasa kasihnya bukan sentuhan fisik, pasti merasa risih dan tak nyaman jika hal ini dilakukan dihadapan orang lain.

Itulah cara-cara mereka menyampaikan kasih sayangnya pada pasangan. Sore ini, suami saya menunjukkan bahasa kasih "Waktu yang Berkualitas" pada saya. Sekedar naik motor bersama sudah menunjukkan bahwa ia ingin terus bersama saya. Kemanapun dia pergi, selalu mengajak saya. Tidak ingin jauh-jauh dari pasangannya. Saya pun harus memahami keinginannya dan memahami bahwa itu adalah bahasa kasihnya, bukan sikap "protektif" yang sempat terlintas dalam benak saya.

Satu orang, tidak hanya memiliki satu bahasa kasih. Mereka bisa saja punya 2 atau 3, bahkan sampai 5 bahasa kasih. Selain Waktu yang Berkualitas, suami saya sering mengungkapkan bahasa kasihnya dengan pelayanan. Memijat kaki dan punggung saya, membiarkan saya bersantai dan mengerjakan semua pekerjaan rumah, memasangkan kaus kaki dan sepatu saya saat hendak keluar, membawakan tas belanja, dll. Kata-kata pendukung atau pujian pun terkadang sering ia sampaikan.

Untuk bahasa kasih dengan hadiah, suami saya termasuk orang yg jarang sekali melakukannya. Apalagi sentuhan fisik. Menggandeng tangan saya saat berjalan diluar? Itu adalah hal yang hampir tidak mungkin dilakukannya, hehehehe.. Mungkin dengan alasan etika dan kesopanan, atau pardah, atau memang dia malu menunjukkannya di depan orang lain. Tapi pada dasarnya, itu memang bukan bahasa kasihnya. Dan saya pun harus memahami itu. Toh, ia mengungkapkannya dengan cara yang lain yang lebih membuat jantung saya berdebar.. Hehehehe

Jadi, ketika pasangan anda melakukan sesuatu untuk anda, berpikirlah bahwa itu bahasa kasihnya. Ia sedang menunjukkan rasa sayangnya pada anda. Meskipun cara itu bukanlah cara yang anda harapkan, menghargai betapa cintanya ia pada anda justru akan membuat anda bahagia.

Lalu, yang mana bahasa kasih pasangan anda?????


I Know You Love Me When ..................

Tuesday, 10 January 2017

Pekerjaan Rumah Tangga, Tugas Suami atau Tugas Istri?

Malam ini saya dan suami menghabiskan waktu bersama di depan laptop, namun dengan pekerjaan yang berbeda. Saya sedang merekap laporan LI, suami sedang menginstal printer yang baru dibeli sore tadi. Duduk bersama begini mengingatkan saya akan sebuah postingan dari seorang kawan beberapa saat yang lalu. Kata orang, postingan ini bikin baper. Begini isi postingannya:

Jika kamu jadi istriku, santai saja. Kamu tak perlu ribet berdandan. Tak perlu memoles wajah sedemikian rupa. Buat apa? Toh, dengan basuhan air wudhu di setiap pergantian waktu, kamu akan selalu cantik. Kamu juga tak perlu resah dengan bentuk perut. Mau gendut mau kurus tak masalah. Sebab aku tahu, di dalam perutmu, ada rahim yang kelak melahirkan putra-putriku.

Jika kamu jadi istriku, santai saja. Tak perlu malu bila tak bisa memasak. Toh, kamu dipinang buat jadi bidadari, bukan untuk jadi koki. Iya, kan? Kita bakal masak bareng-bareng. Dan saat masakan terhidang, kita saling tatap, senyam senyum, lalu tertawa renyah saat ternyata, makanan kita keasinan. Hehe.

Jika kamu jadi istriku, santai saja. Tak gugup sebab tak bisa mengurus rumah. Toh, kamu dipinang sebagai cintaku, bukan pembantu. He'em, kan? Pagi-pagi sebelum aku berangkat kerja, kita akan beresin rumah sama-sama. Barangkali kamu yang nyapu dan aku yang mengepel. Sepakat?

Jika kamu jadi istriku, santai saja. Tak perlu takut karena menjadi istri hidupmu akan membosankan. Diam di rumah terus. Tidak. Kamu bukan satpam di rumahku, kamu penjaga di hatiku. Kita akan jalan-jalan bersama setiap hari. Lihat taman di sore hari, atau berlibur seolah setiap hari, adalah bulan madu.

Jika kamu jadi istriku, santai saja. Sebab ikatan kita adalah sebuah kebaikan. Setengah agama. Kebersamaan kita akan bertabur pahala, yang setiap sentuhan-nya melenyapkan dosa-dosa. Indah, kan?

Kepada kamu duhai jodohku. Jangan ke mana-mana, ya. Sabarlah dengan kesendirianmu. Sebentaaar lagi saja. Aku sedang OTW, nih. Insya Allah aku akan segera datang. Mengusaikan penantianmu.   

Postingan diatas memang bikin baper. Saya aja yang sudah menikah merasa diaduk-aduk perasaannya, apalagi mereka yang masih menikmati kesendirian dengan dalih menunggu jodoh.. Hehehehe.. Tapi setidaknya, sebagai wanita yang diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, pasti kalimat demi kalimat diatas sangat menyentuh hati kita yang sensitif.

Saya teringat ceramah seorang mubaligh yang maknanya sama.

"Dalam Islam, sebenarnya yang harusnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga itu suami. Tugas suami itu kan mencari nafkah. Memberi makan anak istri. Memberi makan berarti harus yang sudah jadi dan siap makan (nasi contohnya, bukannya beras). Lalu mencuci baju, menyapu dan mengepel lantai, semua tugas suami. Karena tanggung jawab suami lah untuk menjaga dan melindungi anak istri."

Saat dengar ceramah itu, otomatis kita para istri udah Ge-eR duluan. Ada yang berdehem-dehem, ada yang pura2 batuk, ada yang senyam senyum, sampai ada yang tutup muka karena malu.. (Itu yang tutup muka malu kenapa ya? Hehhehe). Tapi ga sampai disitu aja. Di tengah riuh para ibu-ibu yang udah keGe-eRan, Pa mubaligh melanjutkan:

"Tugas istri hanya satu. Satu saja, ga banyak. TAAT PADA SUAMI."

Jreng jreng.. Kebayang kan gimana ekspresi kita-kita sebagai istri setelah denger kalimat terakhir? Hehehhehehehe..

Yupp.. Pada dasarnya menikah dan membangun rumah tangga bukan sekedar memenuhi hasrat biologis dan meningkatkan status sosial saja. Bukan pula untuk mendapatkan keturunan sehingga ada yang akan mewarisi kekayaan kita. Menikah tidak sekedar untuk itu. Ada makna yang lebih dalam dari itu.

Kembali ke topik di awal, suami yang mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga adalah suami yang ikhlas, yang mengerti akan keadaan istrinya. Ia paham betul bahwa perempuan secara fisik tidak sekuat laki-laki, namun yang mereka kerjakan justru lebih berat dari pekerjaan laki-laki.
Ketika suami hanya berpikir bagaimana mencari nafkah untuk menghidupi keluarga, istri berpikir untuk mengatur keuangan agar bisa bertahan hidup dari hari ke hari, membagi uang saku anak-anaknya, membeli perlengkapan sekolah dan rumah.
Ketika suami sakit punggung karena kelelahan bekerja, istri sakit mata karena mengiris bawang merah, sakit tangannya karena memikul alat-alat rumah tangga, keram kakinya karena terlalu lama dalam air.
Saya salut pada suami yang rela menggantikan pekerjaan yang biasa dilakukan istrinya..
(Jujur, suami saya gitu.. Malah lebih rajin dari saya.. Hehee)

Namun, tugas istri adalah taat pada suami. Kalau suami minta kita masak karena ia senang masakan kita, why not? Kalau suami minta kita mencuci baju karena dia sudah kelelahan bekerja, kenapa engga? Apa kita tidak ingin melakukan sesuatu yang membuat suami semakin sayang pada kita? Toh dengan permintaan-permintaan suami kepada kita itu, menjadi ladang pahala untuk kita.

Kalau ini benar-benar diterapkan, membangun rumah tangga akan menjadi hal yang paling menyenangkan. Pulang ke rumah langsung setelah bekerja demi melihat senyuman istri adalah harapan para suami. Melihat suami tidur nyenyak setelah kelelahan bekerja menjadi pemandangan yang menyejukkan hati para istri. Semoga kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.. Aamiin

Friday, 25 November 2016

This is The First Time

Sudah beberapa bulan terakhir pikiran saya dipenuhi dengan keinginan-keinginan yang dilematis. Salah satunya adalah keinginan saya untuk menutup sebagian besar wajah saya. Atau biasa orang menyebutnya bercadar. Sebenarnya keinginan ini sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu, saat baru-baru menikah. Hanya saja seiring berjalannya waktu, keinginan ini urung dengan sendirinya karena banyak faktor, diantaranya kesiapan diri saya pribadi dan juga respon lingkungan sekitar.

Saya percaya bahwa banyak dalil-dalil yang menganjurkan untuk bercadar, namun banyak juga dalil-dalil yang membolehkan untuk tidak bercadar. Jadi, pilihan itu tergantung dari diri kita masing-masing. Sayangnya, untuk urusan ini saya sangat sangat penuh dengan pertimbangan. Banyak sekali pertanyaan demi pertanyaan yang ada dalam benak saya.
"Kalau saya bercadar apa orang-orang akan memandang saya dengan tatapan aneh?"
"Apa saya harus mengecilkan volume suara saya kalau saya bercadar?"
"Apa saya bisa konsisten? Takutnya bosan dan membuka cadar saya."

Bahkan sampai hal-hal yang tidak terlalu prinsip pun berkecamuk dalam benak saya, seperti:
"Bagaimana nanti kalau makan di tempat umum? Cara makannya gimana? Ribet ga ya??"

Bagi saya yang sudah bersuami pasti meminta pendapat dan saran suami. Karena walau bagaimanapun saya harus menuruti apa kata suami. Tapi anehnya, setelah bertanya-tanya pada suami malah buntu. Ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk bercadar, suami malah jawab, "Ya terserah kamu aja." Itu kata terserah malah bikin saya makin galau. Gimana sih? Kalau dia maunya saya pake cadar, ya bilang donk. Kalau dia ga mau saya bercadar, ya bilang juga lah dengan jelas. Kalau terserah, malah jadi makin bingung..     "zonk moment"

Setelah dipikir matang-matang sambil memohon petunjuk dari Allah, saya memutuskan untuk mencobanya. Niat saya ini semakin kuat ketika melihat istri dari Khalifatul Masih V ABA yang juga bercadar. Seandainya, cadar itu tidak ada dalam Islam, seharusnya beliau tidak bercadar juga. Kalau dengan alasan kultur dan kebiasaan yang berbeda antar negara, saya rasa bukan alasan yang tepat juga karena Islam adalah agama yang universal tanpa memandang suku bangsa, warna kulit, bahasa, kultur daerah,dll.

Tekad ini saya mulai dengan menghapus foto-foto yang menunjukan wajah saya di instagram. Lumayan banyak juga foto yang saya hapus, sejak 2012. pegel jempol. Astaghfirullahal adzim, ternyata banyak sekali foto-foto wajah saya yang seharusnya tidak saya tampakkan. Sudah ada edaran dari huzur untuk tidak posting foto pribadi dan keluarga, masih aja ngeyel. Maafkan. Heuuu

Sambil tarik napas dalam-dalam, dan dikeluarkan perlahan, saya mulai mencoba memakai jilbab seperti biasanya. Pakai peniti di bawah dagu. Namun sekarang jilbab segi empat ini saya tarik ke arah telinga kanan, lalu dikunci dengan jarum pentul, setelah itu ditarik menutupi wajah saya (bagian lubang hidung ke bawah), kemudian dikunci sisi lainnya dengan jarum pentul di dekat telinga kiri. Tadaaaaa... cuma kelihatan matanya saja..

Jantung saya berdebar kencang sambil melihat cermin dengan seksama. Bismillahirrahmanirrahim. Mudah-mudahan kuat menghadapi respon orang-orang. Walaupun sebenarnya penampilan saya tidak jauh beda dengan penampilan seperti biasanya.. Tidak memakai abaya dan khimar yang membungkus semuanya dg warna-warna gelap solid. Saya memakai baju seperti biasa, bahkan pakai celana. Jibab segi empat biasa ukuran 115x115cm. Hanya saja wajahnya sebagian besar ditutup kecuali bagian mata. Tapi kenapa deg degannya seperti mau ujian skripsi. Koq rasanya berat. Ya Allah, kenapa saya dipenuhi dengan rasa takut dan ragu? Kuatkanlah hamba Ya Allah..

Pas banget saat saya bercermin, Saleha lagi berdiri-berdiri sambil pegangan di kaki saya. Saya angkatlah dia untuk melihat saya di cermin. Eh dia malah cengir-cengir ketawa ketawa. Kenapa neng? Ibu keliatan lucu yah??? Heu.. Keluar dari kamar, suami saya liat dengan agak kaget, trus bilang, "cantik." Huhuhu.. Cuma keliatan matanya aja koq bilang cantik? Hehehehehe

Dan pengalaman pertama saya bercadar adalah di pasar. Pasar yang ramai. Pasar yang banyak orang. Dan karena disini rata-rata orang Nasrani, rasanya makin kenceng aja debaran jantung saya. Sesuai dugaan, banyak yang lihat saya dengan tatapan aneh. Lama kelamaan saya sudah terbiasa, belanja dan berkeliling pasar. Akhirnya kuat sampai pulang.

Inilah pertama kali saya pakai cadar. Saya masih akan terus mencobanya sampai saya terbiasa memakainya. Saya salut pada wanita-wanita yang sudah lebih dulu dan lebih awal bercadar, terutama di Indonesia, dimana penampilan seperti itu masih dianggap tabu. Anda semua benar-benar wanita kuat dan hebat. Doakan saya semoga konsisten dengan pilihan saya.

Untuk teman-teman yang belum bercadar, santai saja. Bukan berarti tidak bercadar itu salah. Saya sudah katakan di awal bahwa ini hanyalah pilihan masing-masing. Kalian sudah menutup aurat dengan baik koq. Dan yang terpenting bukanlah bercadar atau tidaknya, tapi bagaimana sikap kita yang benar-benar mencerminkan bahwa kita adalah wanita muslim, itu yang terpenting. Setidaknya dengan menutup aurat, kita sudah selangkah lebih maju (dari yang lain yang belum berjilbab) untuk serius mengamalkan perintah Allah Swt.

Perlu diingat yaaa.. Berjilbab itu perintah Allah yang sudah jelas-jelas tertuang dalam Al-Qur'an. Masih mau menyangkal???

Bahagia vs Sedih

Lagi-lagi dapet quote yang menarik

"Kebahagiaan memang mudah hilang, namun kesedihan pun akan cepat berlalu."

Quote ini saya ambil dari sebuah drama korea yang saya tonton semalam. Lagi-lagi drakor.. Hehehe
Yah, ga dapat dipungkiri drama2 korea memang punya segudang quotes yang bagus. Terlepas dari adegan-adegannya yang romantis dan terkadang agak vulgar, di satu sisi ceritanya memiliki nilai-nilai kebijaksanaan dan pesan moral yang cukup baik. Jadi, ambillah yang baik-baiknya, lupakan yang buruknya.

Setelah denger quote ini, jadi mikir. Selama ini ga pernah mikir. Hehehehe
Bener juga ya?
Hidup itu ibarat roda yang berputar. Kalau digambarkan lingkaran, kebahagiaan dan kesedihan adalah kelilingnya. Ketika lingkaran/roda itu diputar, maka kebahagiaan dan kesedihan tak akan selamanya menetap di satu sisi. Sehingga pantas saja setelah kebahagiaan pasti ada kesedihan. Begitupun sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan dongeng2 pengantar tidur yang selalu diakhiri dengan, "happily ever after"? Apakah tokoh dalam dongeng itu bahagia sampai mati? Secara umum iya. Tapi tetap saja, mereka pun akan melalui kesedihan demi kesedihan. Hanya saja, kesedihan itu cepat berlalu sehingga mereka menemukan kembali kebahagiaan. Bagaimana mereka mengatasi kesedihan, itulah yang mendatangkan kebahagiaan.

Singkatnya, kebahagiaan dan kesedihan adalah hal yang niscaya. Namun, sebanyak apa kebahagiaan yang kita temukan dapat menutupi kesedihan kita, tergantung dari diri kita sendiri. Semakin kita mengabaikan kesedihan, semakin banyak kita dapatkan kebahagiaan.

So, jangan pernah lupa berbahagia! Hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan dengan kesedihan demi kesedihan. Syukuri apa yang ada dalam hidup kita, maka ungkapan happily ever after pun akan selalu mengiringi kita. Aamiin

Tuesday, 22 November 2016

"A healthy marriage is more important than a wealthy wedding."

Sering dengar quote "A healthy marriage is more important than a wealthy wedding."

Saya dan suami lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga sederhana. Sampai2 pernikahan kami pun sangat sederhana. Melihat orang lain berlomba2 menyelenggarakan pesta pernikahan semewah mungkin, kami justru berusaha membuatnya sesederhana mungkin. Bukan karena pelit atau perhitungan. Tapi sejak kecil kami dididik untuk selalu mendahulukan kebutuhan daripada keinginan. Memang hal yang sangat manusiawi jika kita menginginkan pernikahan bak putri raja. Saya pun sempat menginginkan hal itu. Namun kembali lagi pada esensi dari pernikahan itu sendiri. Semegah apapun acaranya, toh itu hanya berakhir dalam sehari. Lalu manfaatnya? Juga hanya bertahan sehari. Dan kedepannya? Apa yg akan kita lakukan? Kembali ke rutinitas sehari2. Suami mencari nafkah, istri sibuk dalam mengelola rumah tangga. Semua hanya akan menguap begitu saja.

Seandainya uang puluhan bahkan ratusan juta itu kita alihkan untuk hal lain. Bukankah akan lebih terasa manfaatnya? Uang itu bisa diputar dan disalurkan untuk hal lain. Lega?? Lega lah. Setidaknya uang itu bisa bermanfaat untuk orang lain. Untuk orang yang lebih membutuhkan. Tidak habis begitu saja.

Nah, untuk yang tak punya persiapan uang puluhan sampai ratusan juta itu bagaimana? Lega juga kah? Ya pasti lega lah. Karena setelah acara pernikahan kita tak perlu memikirkan hutang yang menumpuk dan sia2 itu. Aman?? Ya pasti aman donk.
Yang terpenting bukan mewah atau tidaknya acara pernikahan itu. Tapi sekuat apa ikatan yang telah kita ciptakan ini terjalin. Rumah tangga yang sehat adalah rumah tangga yang didambakan. Bukan berarti tak ada perselisihan. Perselisihan akan selalu ada. Tapi bagaimana kita menyikapinya dengan dewasa dan bijaksana. Salah satunya ialah dengan menerapkan pola hidup sederhana. Istri tak banyak menuntut hal2 duniawi. Suami pun tak kelabakan dengan permintaan2 yang tak perlu.

Kami berusaha untuk menanamkan nilai2 itu pada Saleha dan adik2nya kelak. Karena nilai2 kesederhanaan tak didapat secara instan. Semua diperoleh sejak dini dan diamalkan bersama hingga mati. Aamiin

Saturday, 19 November 2016

Family Oh Family

Weekend ini enaknya ngapain ya?
Buat yg sibuk bekerja pasti memilih weekend bersama keluarga. Kapan lagi bisa kumpul-kumpul bareng kalo bukan saat libur kerja?

Dulu waktu masih kecil, hari-hari kita selalu bersama keluarga. Kita belum memiliki kemampuan dan keberanian untuk keluar jauh dari rumah. Tapi seiring berjalannya waktu kita mulai bereksplorasi dan mengenal dunia luar. Saat masih remaja, saya juga merasakan apa yang dirasakan remaja sekarang. Ketika weekend, orangtua ingin menghabiskan waktu bersama saya, tapi saya malah ingin keluar bersama teman-teman.

Yah, seringkali keinginan orangtua tidak sejalan dengan anak-anaknya. Ketika orangtua merasa waktu mereka habis untuk bekerja, anak-anak justru merasa waktu mereka habis untuk belajar dan ingin bermain dengan teman sebaya. Namun setelah kita beranjak dewasa kita mulai menyadari, begitu banyak hal-hal yang terlewatkan bersama keluarga.

Weekend ini saya menonton drama Korea yang berjudul "Spy". Di awal-awal episode saya menangkap quote yang cukup menarik.

" Memang benar saat sedang bersama-sama, keluarga itu seperti rantai, namun ketika mereka pergi dan telah tiada maka kita akan merasa kesepian. Pada akhirnya keluarga lah tempat kita kembali."

Sempat ga mudeng awalnya. Tapi lama-lama saya paham maksudnya. Ketika bersama keluarga kita merasa seperti ada rantai yang membelenggu. Terutama ibu, selalu mengatakan, "ini ga boleh, itu ga boleh, jangan begini, jangan begitu." Rasanya semua dibatasi. Bagi ABG-ABG yang sedang heboh mencari jati diri pasti merasa tersiksa. Tapi coba saja kita pergi dan menjauh dari keluarga, pasti kita akan kesepian. Karena hanya orangtua dan keluarga lah yang dekat dan mengerti kita.

Well, tentu saja bagi anak-anak labil tulisan ini tidak terlalu penting. Karena mereka sedang berada dalam kekuasaan ego yang sangat tinggi. Namun suatu saat, ketika kita berada di tahap yang sama seperti orangtua kita (read:sudah punya anak), kita pasti menyadarinya. Sehingga, setelah dewasa kita pasti akan memilih menghabiskan waktu bersama keluarga saat weekend.

"Family means no one lefts behind and forgotten."
"

Friday, 18 November 2016

T.G.I.F.

Yeaaayyy.. Postingan kedua.. hehehe
Sering bertemu dengan singkatan T.G.I.F.? Kalau kamu anak gaul pasti sering donk menemukan singkatan itu. Bahkan karena saking ingin ikut-ikutan keren, kamu pun turut serta meramaikan timeline Social Media-mu dengan mengupdate status T.G.I.F.

Ya, T.G.I.F. adalah singkatan dari kalimat berbahasa Inggris, "Thank God It's Friday". Dari kalimatnya kita bisa paham bahwa T.G.I.F. adalah ungkapan rasa syukur atau terimakasih kita karena hari ini adalah hari Jum'at. Atau gampangnya, bersyukur banget deh ketemu ama hari Jum'at.
Wah, kenapa ya? hmmmm


Menurut beberapa sumber, T.G.I.F. bermula dari negeri Paman Sam, Amerika. Ungkapan ini sudah ada sejak tahun 1960an, dipopulerkan pertama kali oleh sebuah restoran T.G.I. Friday's yang berdiri pada tahun 1965. Namun seiring berjalannya waktu, ungkapan ini semakin populer pada tahun 1970 berkat sebuah film yang rilis tahun 1965 dengan judul yang sama. Waaahh,, ternyata udah lama juga ya.. Bisa dibilang saya ketinggalan karena baru tahu akhir-akhir ini.. hehehehe

Hari Jum'at pun menjadi spesial karena keesokan harinya merupakan weekend yang tentunya ditunggu-tunggu semua orang. Jum'at adalah hari terakhir mereka berkutat dengan pekerjaan sehingga mereka sangat bahagia apabila hari Jum'at datang.
Menurut sumber lain, di Amerika hari Jum'at adalah hari gajian. Pantas saja semua berbahagia.wong mau pegang duit.. heehehehe

Bagi umat Islam khususnya, hari Jum'at merupakan hari yang sangat istimewa.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

Saking istimewanya hari Jum'at, bahkan umat Muslim mendirikan Shalat Jum'at (di setiap hari Jum'at tentunya). Hari Jum'at bahkan diketahui sebagai Hari Raya umat Islam selain Idul Fitri dan Idul Adha.
Dalam Hadits lain Rasulullah SAW. bersabda, "Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan Muslim]

Begitu banyaknya keistimewaan hari Jum'at menurut Islam. Hari Jum'at adalah kesempatan untuk kita mengupgrade keadaan rohani kita. Mengisinya dengan ibadah dan zikir kepada Allah SWT. tidak akan pernah sia-sia.

Terlepas dari reaksi orang-orang tentang hari Jum'at. Secara umum saya mengambil kesimpulan bahwa hari Jum'at adalah hari yang istimewa. Semua orang berbahagia menyambutnya. Entah secara rohani maupun jasmani, entah dalam hal duniawi maupun agama, semua menganggap hari Jum'at istimewa.

Bagi beberapa orang, hari Jum'at adalah hari yang melegakan karena esok mereka akan bersantai. Beberapa yang lain menyambut hari Jum'at dengan bahagia karena hendak mendapat gaji. Keringat dan kerja keras mereka terbayar hari ini. Menantikan senyuman istri dan anak-anak di rumah yang menunggu hasil usahanya.

Tapi lebih jauh dan lebih dalam dari itu, hari jum'at bukan sekedar tentang jasmani dan duniawi belaka. Hari ini adalah hari dimana Tuhan menyebarkan kebahagiaan pada seluruh manusia, dengan harapan bahwa manusia akan menyadarinya lalu bersyukur. Syukur yang dituangkan dalam ibadah-ibadah khusyu dan syahdu. Dan hanya sedikit orang yang menyadarinya. Semoga kita termasuk didalamnya. Aamiin

Jum'at Mubarak..


Wednesday, 16 November 2016

Newbie

Assalamu'alaikum wr.wb.

Hai.. Ini postingan pertama saya di blog ini. Masih baru banget yah? hehehe
Yah, keliatannya emang saya anak baru yang perlu di ospek sama senior-senior blogger. ga pake bullying yah, udah ga zaman
Tapi sebenarnya saya sudah melanglang buana di dunia blogger sejak 2010 lalu. tentunya dengan akun lain
Dari zaman ABG labil yang postingannya sebatas lagu-lagu Jason Mraz (ah udah lama ga denger lagu-lagunya), foto-foto travelling bareng temen-temen kampus, sampai sharing film-film terbaru yang ditonton. Pokoknya isi postingannya labil banget deh. Udah lama ga ditengok sampai-sampai saya lupa password akunnya (atau sengaja melupakan saking banyaknya yang diingat. hahaha).

Blog ini dibuat karena kerinduan saya terhadap dunia tulis menulis di blogger. blogger emang ngangenin yahhh.. hehe
Sudah lama sekali rasanya menulis dengan bebas seperti ini. Saya memang selalu menulis, tapi tulisan-tulisan yang saya hasilkan rata-rata isinya serius semua. Emosi yang tertuang jadi agak terbatas karena mengingat etika-etika menulis baku, baik EYD, diksi, dll. Menyenangkan juga sih menulis seperti itu. Setidaknya ada rasa bangga bahwa tulisan-tulisan saya terkesan intelek dan berbobot. hahahaha maafkan saya sudah pamer, karena ga pernah dipuji sih
Yahh, tapi saya pun manusia biasa yang butuh refreshing. Di satu sisi saya menguras pikiran dan mencari-cari referensi (sulit juga loh menulis dengan mencari referensi yang detil), di sisi lain saya pun ingin menuangkan emosi saya dengan tulisan-tulisan ringan dan ga perlu mikir panjang sampe lelah seperti biasanya. Dan jalan keluarnya adalah blog ini. *bangga banget yahh blogger.com bisa jadi solusi

Tapi saya pun tidak menjanjikan di blog ini akan selalu menyuguhkan tulisan-tulisan ringan dan ga perlu mikir. Kalo keseriusan saya kumat, mau ga mau saya juga akan posting disini. Yah, hitung-hitung meramaikan variasi tulisan saya lah yaa. Dan jangan heran kalau tulisan saya nanti banyak ke arah religius, soalnya saya sedang mendalami agama dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin
 
Memilih judul The Freedom of Writing untuk blog saya ini bukan tanpa alasan. Setidaknya setiap orang yang berkunjung ke blog saya akan merasakan kebebasan setelah membaca kata Freedom. Dan seperti yang saya sebutkan di awal, saya ingin menulis secara bebas. Tapi bukan berarti bebas tanpa ada batasan yah. Bukan juga bebas seperti remaja-remaja galau yang saban kali update status di medsos berisi keprihatinan-keprihatinan yang ada dalam hatinya.

Sudah saja ngaler ngidulnya. Saya tutup tulisan saya dengan introduction sedikit tentang diri saya. Saya 24 tahun. Seorang istri dari suami yang menyerahkan hidupnya untuk agama. Saya bersyukur telah dikaruniai seorang bayi kecil cantik yang diberi nama Saleha. Kami berusaha sekuat tenaga menjadi keluarga kecil yang harmonis. Semoga teman-teman senang berkunjung ke blog ini. Mohon maaf saya tidak bisa menyuguhkan minuman karena tidak bisa. hehehe