Tuesday, 24 January 2017

I Know You Love Me When .....

Sore ini suami mengajak saya untuk keluar bersama. Saya pikir kami akan jalan-jalan ke suatu tempat dengan pemandangan indah, atau mengajak makan diluar, atau bahkan berbelanja (#ngarep). Tapi nyatanya suami mengajak keluar hanya untuk membeli pulsa, dan setelah itu pulang lagi. Itulah suami saya. Kemanapun ia pergi, pasti selalu mengajak saya (dan Saleha tentunya) walaupun hanya untuk beli pulsa.

Sekilas nampak aneh. Bayangkan saja. Kemanapun dia pergi, pasti istrinya harus ikut (kecuali ke tempat-tempat yang tidak memungkinkan bagi saya untuk ikut, seperti majlis-majlis atau perkumpulan khusus laki-laki). Bahkan terkadang saya merasa tak ingin ikut karena berpikir, "ah cuma kesana, dia juga bisa sendiri. Koq, protektif sekali?"

Menghadapi situasi seperti ini saya jadi ingat pada buku yang pernah saya baca. Buku pemberian seorang kawan sebagai hadiah pernikahan kami. Gary Chapman menulis sebuah buku tentang pernikahan berjudul The Five Love Languages (Lima Bahasa Kasih). Saya pun mencari kembali di rak buku dan membacanya lagi.

Dalam buku tersebut, ada lima cara orang menyampaikan cinta dan kasih sayangnya. Cinta bukan hanya sekedar diucapkan, tapi juga dipraktekkan dalam sikap terhadap pasangan. Penyampaian bahasa kasih dengan cara-cara yang berbeda seringkali menimbulkan kesalah pahaman dan pertengkaran apabila pasangan tidak menyadarinya.

Lima Bahasa atau Lima Cara Penyampaian cinta tersebut, diantaranya:

1. Kata-kata Pendukung (Pujian)   
  Seseorang mengungkapkan kasih sayangnya dengan memberikan pujian dan kalimat-kalimat yang menyenangkan. Bisa jadi juga kalimat rayuan atau kalimat bernada romantis. Ada beberapa orang yang senang sekali memuji pasangan. "Kamu begitu cantik," "Kamu adalah satu-satunya yang kucintai," "Aku sayang kamu," "Aku selalu mendukungmu." "Aku akan menjadi pelindungmu," "Tak ada perempuan lain di hatiku selain kamu."
Bagi beberapa orang, hal itu hanyalah "rayuan gombal" atau hanya bualan. Tapi bagi beberapa yang lain, itulah bahasa cinta mereka. Memuji pasangan dan memberikan kalimat-kalimat yang menyenangkan, adalah salah satu cara untuk mengungkapkannya.

2. Saat-saat yang Mengesankan (Waktu yang Berkualitas)
     Mereka yang memiliki bahasa kasih ini mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya dengan menghabiskan waktu bersama pasangan. Sekedar duduk-duduk bersama pasangan sambil menonton televisi sudah cukup bagi mereka. Pergi bersama pasangan ke suatu tempat dan makan bersama, adalah bentuk perwujudan rasa sayangnya. Mengajak mengobrol 5-10 menit sebelum tidur sembari bertatapan, sudah sangat mengaduk-aduk hatinya. Inilah bahasa kasih mereka. Yang mungkin bagi beberapa orang dianggap sesuatu yang biasa saja, namun bagi mereka, inilah cinta yang mereka sampaikan.

3. Memberikan Hadiah
     Sering melihat pasangan yang selalu memberi bunga? Pasti. Inilah bahasa kasih mereka. Hadiah. Mereka merasa, bahasa cintanya akan tersampaikan jika mereka memberikan sesuatu pada pasangan. Memberikan bunga mawar, memberikan apa yang sedang diinginkan pasangan, bahkan sampai membuatkan dengan tangannya sendiri. Bahasa kasih ini memang paling sering membuat wanita meleleh. Siapa yang tak suka hadiah? Tapi ada juga beberapa orang yang tidak suka diberi hadiah.

4. Pelayanan
     Memijat kaki istri, menyiapkan air hangat untuk mandi istri, memperlakukan pasangan seperti raja/ratu. Ya, inilah bahasa kasih mereka. Mereka mengungkapkan kasih sayangnya dengan melayani pasangan. Seringkali sang suami meminta istri untuk diam saja, dan dia yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Memijat kaki istrinya yang sedang lelah. Mengambilkan sepatu istri dan memasangkannya saat akan pergi keluar. (Saya nulis part ini langsung merinding.. What a beautiful husband..)

5. Sentuhan Fisik
     Mungkin ini bahasa kasih yang cukup banyak dipraktekkan. Seseorang mengungkapkan cintanya dengan menyentuh pasangannya. Memegang tangannya, mencium keningnya, memeluknya, bahkan menggandengnya saat berjalan bersama. Orang pasti bisa melihat bahwa ini jelas-jelas ungkapan cinta. Orang yang memiliki bahasa kasih ini tak akan segan menunjukannya di depan orang lain. Namun orang yang bahasa kasihnya bukan sentuhan fisik, pasti merasa risih dan tak nyaman jika hal ini dilakukan dihadapan orang lain.

Itulah cara-cara mereka menyampaikan kasih sayangnya pada pasangan. Sore ini, suami saya menunjukkan bahasa kasih "Waktu yang Berkualitas" pada saya. Sekedar naik motor bersama sudah menunjukkan bahwa ia ingin terus bersama saya. Kemanapun dia pergi, selalu mengajak saya. Tidak ingin jauh-jauh dari pasangannya. Saya pun harus memahami keinginannya dan memahami bahwa itu adalah bahasa kasihnya, bukan sikap "protektif" yang sempat terlintas dalam benak saya.

Satu orang, tidak hanya memiliki satu bahasa kasih. Mereka bisa saja punya 2 atau 3, bahkan sampai 5 bahasa kasih. Selain Waktu yang Berkualitas, suami saya sering mengungkapkan bahasa kasihnya dengan pelayanan. Memijat kaki dan punggung saya, membiarkan saya bersantai dan mengerjakan semua pekerjaan rumah, memasangkan kaus kaki dan sepatu saya saat hendak keluar, membawakan tas belanja, dll. Kata-kata pendukung atau pujian pun terkadang sering ia sampaikan.

Untuk bahasa kasih dengan hadiah, suami saya termasuk orang yg jarang sekali melakukannya. Apalagi sentuhan fisik. Menggandeng tangan saya saat berjalan diluar? Itu adalah hal yang hampir tidak mungkin dilakukannya, hehehehe.. Mungkin dengan alasan etika dan kesopanan, atau pardah, atau memang dia malu menunjukkannya di depan orang lain. Tapi pada dasarnya, itu memang bukan bahasa kasihnya. Dan saya pun harus memahami itu. Toh, ia mengungkapkannya dengan cara yang lain yang lebih membuat jantung saya berdebar.. Hehehehe

Jadi, ketika pasangan anda melakukan sesuatu untuk anda, berpikirlah bahwa itu bahasa kasihnya. Ia sedang menunjukkan rasa sayangnya pada anda. Meskipun cara itu bukanlah cara yang anda harapkan, menghargai betapa cintanya ia pada anda justru akan membuat anda bahagia.

Lalu, yang mana bahasa kasih pasangan anda?????


I Know You Love Me When ..................

Tuesday, 10 January 2017

Pekerjaan Rumah Tangga, Tugas Suami atau Tugas Istri?

Malam ini saya dan suami menghabiskan waktu bersama di depan laptop, namun dengan pekerjaan yang berbeda. Saya sedang merekap laporan LI, suami sedang menginstal printer yang baru dibeli sore tadi. Duduk bersama begini mengingatkan saya akan sebuah postingan dari seorang kawan beberapa saat yang lalu. Kata orang, postingan ini bikin baper. Begini isi postingannya:

Jika kamu jadi istriku, santai saja. Kamu tak perlu ribet berdandan. Tak perlu memoles wajah sedemikian rupa. Buat apa? Toh, dengan basuhan air wudhu di setiap pergantian waktu, kamu akan selalu cantik. Kamu juga tak perlu resah dengan bentuk perut. Mau gendut mau kurus tak masalah. Sebab aku tahu, di dalam perutmu, ada rahim yang kelak melahirkan putra-putriku.

Jika kamu jadi istriku, santai saja. Tak perlu malu bila tak bisa memasak. Toh, kamu dipinang buat jadi bidadari, bukan untuk jadi koki. Iya, kan? Kita bakal masak bareng-bareng. Dan saat masakan terhidang, kita saling tatap, senyam senyum, lalu tertawa renyah saat ternyata, makanan kita keasinan. Hehe.

Jika kamu jadi istriku, santai saja. Tak gugup sebab tak bisa mengurus rumah. Toh, kamu dipinang sebagai cintaku, bukan pembantu. He'em, kan? Pagi-pagi sebelum aku berangkat kerja, kita akan beresin rumah sama-sama. Barangkali kamu yang nyapu dan aku yang mengepel. Sepakat?

Jika kamu jadi istriku, santai saja. Tak perlu takut karena menjadi istri hidupmu akan membosankan. Diam di rumah terus. Tidak. Kamu bukan satpam di rumahku, kamu penjaga di hatiku. Kita akan jalan-jalan bersama setiap hari. Lihat taman di sore hari, atau berlibur seolah setiap hari, adalah bulan madu.

Jika kamu jadi istriku, santai saja. Sebab ikatan kita adalah sebuah kebaikan. Setengah agama. Kebersamaan kita akan bertabur pahala, yang setiap sentuhan-nya melenyapkan dosa-dosa. Indah, kan?

Kepada kamu duhai jodohku. Jangan ke mana-mana, ya. Sabarlah dengan kesendirianmu. Sebentaaar lagi saja. Aku sedang OTW, nih. Insya Allah aku akan segera datang. Mengusaikan penantianmu.   

Postingan diatas memang bikin baper. Saya aja yang sudah menikah merasa diaduk-aduk perasaannya, apalagi mereka yang masih menikmati kesendirian dengan dalih menunggu jodoh.. Hehehehe.. Tapi setidaknya, sebagai wanita yang diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, pasti kalimat demi kalimat diatas sangat menyentuh hati kita yang sensitif.

Saya teringat ceramah seorang mubaligh yang maknanya sama.

"Dalam Islam, sebenarnya yang harusnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga itu suami. Tugas suami itu kan mencari nafkah. Memberi makan anak istri. Memberi makan berarti harus yang sudah jadi dan siap makan (nasi contohnya, bukannya beras). Lalu mencuci baju, menyapu dan mengepel lantai, semua tugas suami. Karena tanggung jawab suami lah untuk menjaga dan melindungi anak istri."

Saat dengar ceramah itu, otomatis kita para istri udah Ge-eR duluan. Ada yang berdehem-dehem, ada yang pura2 batuk, ada yang senyam senyum, sampai ada yang tutup muka karena malu.. (Itu yang tutup muka malu kenapa ya? Hehhehe). Tapi ga sampai disitu aja. Di tengah riuh para ibu-ibu yang udah keGe-eRan, Pa mubaligh melanjutkan:

"Tugas istri hanya satu. Satu saja, ga banyak. TAAT PADA SUAMI."

Jreng jreng.. Kebayang kan gimana ekspresi kita-kita sebagai istri setelah denger kalimat terakhir? Hehehhehehehe..

Yupp.. Pada dasarnya menikah dan membangun rumah tangga bukan sekedar memenuhi hasrat biologis dan meningkatkan status sosial saja. Bukan pula untuk mendapatkan keturunan sehingga ada yang akan mewarisi kekayaan kita. Menikah tidak sekedar untuk itu. Ada makna yang lebih dalam dari itu.

Kembali ke topik di awal, suami yang mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga adalah suami yang ikhlas, yang mengerti akan keadaan istrinya. Ia paham betul bahwa perempuan secara fisik tidak sekuat laki-laki, namun yang mereka kerjakan justru lebih berat dari pekerjaan laki-laki.
Ketika suami hanya berpikir bagaimana mencari nafkah untuk menghidupi keluarga, istri berpikir untuk mengatur keuangan agar bisa bertahan hidup dari hari ke hari, membagi uang saku anak-anaknya, membeli perlengkapan sekolah dan rumah.
Ketika suami sakit punggung karena kelelahan bekerja, istri sakit mata karena mengiris bawang merah, sakit tangannya karena memikul alat-alat rumah tangga, keram kakinya karena terlalu lama dalam air.
Saya salut pada suami yang rela menggantikan pekerjaan yang biasa dilakukan istrinya..
(Jujur, suami saya gitu.. Malah lebih rajin dari saya.. Hehee)

Namun, tugas istri adalah taat pada suami. Kalau suami minta kita masak karena ia senang masakan kita, why not? Kalau suami minta kita mencuci baju karena dia sudah kelelahan bekerja, kenapa engga? Apa kita tidak ingin melakukan sesuatu yang membuat suami semakin sayang pada kita? Toh dengan permintaan-permintaan suami kepada kita itu, menjadi ladang pahala untuk kita.

Kalau ini benar-benar diterapkan, membangun rumah tangga akan menjadi hal yang paling menyenangkan. Pulang ke rumah langsung setelah bekerja demi melihat senyuman istri adalah harapan para suami. Melihat suami tidur nyenyak setelah kelelahan bekerja menjadi pemandangan yang menyejukkan hati para istri. Semoga kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.. Aamiin

Friday, 25 November 2016

This is The First Time

Sudah beberapa bulan terakhir pikiran saya dipenuhi dengan keinginan-keinginan yang dilematis. Salah satunya adalah keinginan saya untuk menutup sebagian besar wajah saya. Atau biasa orang menyebutnya bercadar. Sebenarnya keinginan ini sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu, saat baru-baru menikah. Hanya saja seiring berjalannya waktu, keinginan ini urung dengan sendirinya karena banyak faktor, diantaranya kesiapan diri saya pribadi dan juga respon lingkungan sekitar.

Saya percaya bahwa banyak dalil-dalil yang menganjurkan untuk bercadar, namun banyak juga dalil-dalil yang membolehkan untuk tidak bercadar. Jadi, pilihan itu tergantung dari diri kita masing-masing. Sayangnya, untuk urusan ini saya sangat sangat penuh dengan pertimbangan. Banyak sekali pertanyaan demi pertanyaan yang ada dalam benak saya.
"Kalau saya bercadar apa orang-orang akan memandang saya dengan tatapan aneh?"
"Apa saya harus mengecilkan volume suara saya kalau saya bercadar?"
"Apa saya bisa konsisten? Takutnya bosan dan membuka cadar saya."

Bahkan sampai hal-hal yang tidak terlalu prinsip pun berkecamuk dalam benak saya, seperti:
"Bagaimana nanti kalau makan di tempat umum? Cara makannya gimana? Ribet ga ya??"

Bagi saya yang sudah bersuami pasti meminta pendapat dan saran suami. Karena walau bagaimanapun saya harus menuruti apa kata suami. Tapi anehnya, setelah bertanya-tanya pada suami malah buntu. Ketika saya mengungkapkan keinginan saya untuk bercadar, suami malah jawab, "Ya terserah kamu aja." Itu kata terserah malah bikin saya makin galau. Gimana sih? Kalau dia maunya saya pake cadar, ya bilang donk. Kalau dia ga mau saya bercadar, ya bilang juga lah dengan jelas. Kalau terserah, malah jadi makin bingung..     "zonk moment"

Setelah dipikir matang-matang sambil memohon petunjuk dari Allah, saya memutuskan untuk mencobanya. Niat saya ini semakin kuat ketika melihat istri dari Khalifatul Masih V ABA yang juga bercadar. Seandainya, cadar itu tidak ada dalam Islam, seharusnya beliau tidak bercadar juga. Kalau dengan alasan kultur dan kebiasaan yang berbeda antar negara, saya rasa bukan alasan yang tepat juga karena Islam adalah agama yang universal tanpa memandang suku bangsa, warna kulit, bahasa, kultur daerah,dll.

Tekad ini saya mulai dengan menghapus foto-foto yang menunjukan wajah saya di instagram. Lumayan banyak juga foto yang saya hapus, sejak 2012. pegel jempol. Astaghfirullahal adzim, ternyata banyak sekali foto-foto wajah saya yang seharusnya tidak saya tampakkan. Sudah ada edaran dari huzur untuk tidak posting foto pribadi dan keluarga, masih aja ngeyel. Maafkan. Heuuu

Sambil tarik napas dalam-dalam, dan dikeluarkan perlahan, saya mulai mencoba memakai jilbab seperti biasanya. Pakai peniti di bawah dagu. Namun sekarang jilbab segi empat ini saya tarik ke arah telinga kanan, lalu dikunci dengan jarum pentul, setelah itu ditarik menutupi wajah saya (bagian lubang hidung ke bawah), kemudian dikunci sisi lainnya dengan jarum pentul di dekat telinga kiri. Tadaaaaa... cuma kelihatan matanya saja..

Jantung saya berdebar kencang sambil melihat cermin dengan seksama. Bismillahirrahmanirrahim. Mudah-mudahan kuat menghadapi respon orang-orang. Walaupun sebenarnya penampilan saya tidak jauh beda dengan penampilan seperti biasanya.. Tidak memakai abaya dan khimar yang membungkus semuanya dg warna-warna gelap solid. Saya memakai baju seperti biasa, bahkan pakai celana. Jibab segi empat biasa ukuran 115x115cm. Hanya saja wajahnya sebagian besar ditutup kecuali bagian mata. Tapi kenapa deg degannya seperti mau ujian skripsi. Koq rasanya berat. Ya Allah, kenapa saya dipenuhi dengan rasa takut dan ragu? Kuatkanlah hamba Ya Allah..

Pas banget saat saya bercermin, Saleha lagi berdiri-berdiri sambil pegangan di kaki saya. Saya angkatlah dia untuk melihat saya di cermin. Eh dia malah cengir-cengir ketawa ketawa. Kenapa neng? Ibu keliatan lucu yah??? Heu.. Keluar dari kamar, suami saya liat dengan agak kaget, trus bilang, "cantik." Huhuhu.. Cuma keliatan matanya aja koq bilang cantik? Hehehehehe

Dan pengalaman pertama saya bercadar adalah di pasar. Pasar yang ramai. Pasar yang banyak orang. Dan karena disini rata-rata orang Nasrani, rasanya makin kenceng aja debaran jantung saya. Sesuai dugaan, banyak yang lihat saya dengan tatapan aneh. Lama kelamaan saya sudah terbiasa, belanja dan berkeliling pasar. Akhirnya kuat sampai pulang.

Inilah pertama kali saya pakai cadar. Saya masih akan terus mencobanya sampai saya terbiasa memakainya. Saya salut pada wanita-wanita yang sudah lebih dulu dan lebih awal bercadar, terutama di Indonesia, dimana penampilan seperti itu masih dianggap tabu. Anda semua benar-benar wanita kuat dan hebat. Doakan saya semoga konsisten dengan pilihan saya.

Untuk teman-teman yang belum bercadar, santai saja. Bukan berarti tidak bercadar itu salah. Saya sudah katakan di awal bahwa ini hanyalah pilihan masing-masing. Kalian sudah menutup aurat dengan baik koq. Dan yang terpenting bukanlah bercadar atau tidaknya, tapi bagaimana sikap kita yang benar-benar mencerminkan bahwa kita adalah wanita muslim, itu yang terpenting. Setidaknya dengan menutup aurat, kita sudah selangkah lebih maju (dari yang lain yang belum berjilbab) untuk serius mengamalkan perintah Allah Swt.

Perlu diingat yaaa.. Berjilbab itu perintah Allah yang sudah jelas-jelas tertuang dalam Al-Qur'an. Masih mau menyangkal???

Bahagia vs Sedih

Lagi-lagi dapet quote yang menarik

"Kebahagiaan memang mudah hilang, namun kesedihan pun akan cepat berlalu."

Quote ini saya ambil dari sebuah drama korea yang saya tonton semalam. Lagi-lagi drakor.. Hehehe
Yah, ga dapat dipungkiri drama2 korea memang punya segudang quotes yang bagus. Terlepas dari adegan-adegannya yang romantis dan terkadang agak vulgar, di satu sisi ceritanya memiliki nilai-nilai kebijaksanaan dan pesan moral yang cukup baik. Jadi, ambillah yang baik-baiknya, lupakan yang buruknya.

Setelah denger quote ini, jadi mikir. Selama ini ga pernah mikir. Hehehehe
Bener juga ya?
Hidup itu ibarat roda yang berputar. Kalau digambarkan lingkaran, kebahagiaan dan kesedihan adalah kelilingnya. Ketika lingkaran/roda itu diputar, maka kebahagiaan dan kesedihan tak akan selamanya menetap di satu sisi. Sehingga pantas saja setelah kebahagiaan pasti ada kesedihan. Begitupun sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan dongeng2 pengantar tidur yang selalu diakhiri dengan, "happily ever after"? Apakah tokoh dalam dongeng itu bahagia sampai mati? Secara umum iya. Tapi tetap saja, mereka pun akan melalui kesedihan demi kesedihan. Hanya saja, kesedihan itu cepat berlalu sehingga mereka menemukan kembali kebahagiaan. Bagaimana mereka mengatasi kesedihan, itulah yang mendatangkan kebahagiaan.

Singkatnya, kebahagiaan dan kesedihan adalah hal yang niscaya. Namun, sebanyak apa kebahagiaan yang kita temukan dapat menutupi kesedihan kita, tergantung dari diri kita sendiri. Semakin kita mengabaikan kesedihan, semakin banyak kita dapatkan kebahagiaan.

So, jangan pernah lupa berbahagia! Hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan dengan kesedihan demi kesedihan. Syukuri apa yang ada dalam hidup kita, maka ungkapan happily ever after pun akan selalu mengiringi kita. Aamiin

Tuesday, 22 November 2016

"A healthy marriage is more important than a wealthy wedding."

Sering dengar quote "A healthy marriage is more important than a wealthy wedding."

Saya dan suami lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga sederhana. Sampai2 pernikahan kami pun sangat sederhana. Melihat orang lain berlomba2 menyelenggarakan pesta pernikahan semewah mungkin, kami justru berusaha membuatnya sesederhana mungkin. Bukan karena pelit atau perhitungan. Tapi sejak kecil kami dididik untuk selalu mendahulukan kebutuhan daripada keinginan. Memang hal yang sangat manusiawi jika kita menginginkan pernikahan bak putri raja. Saya pun sempat menginginkan hal itu. Namun kembali lagi pada esensi dari pernikahan itu sendiri. Semegah apapun acaranya, toh itu hanya berakhir dalam sehari. Lalu manfaatnya? Juga hanya bertahan sehari. Dan kedepannya? Apa yg akan kita lakukan? Kembali ke rutinitas sehari2. Suami mencari nafkah, istri sibuk dalam mengelola rumah tangga. Semua hanya akan menguap begitu saja.

Seandainya uang puluhan bahkan ratusan juta itu kita alihkan untuk hal lain. Bukankah akan lebih terasa manfaatnya? Uang itu bisa diputar dan disalurkan untuk hal lain. Lega?? Lega lah. Setidaknya uang itu bisa bermanfaat untuk orang lain. Untuk orang yang lebih membutuhkan. Tidak habis begitu saja.

Nah, untuk yang tak punya persiapan uang puluhan sampai ratusan juta itu bagaimana? Lega juga kah? Ya pasti lega lah. Karena setelah acara pernikahan kita tak perlu memikirkan hutang yang menumpuk dan sia2 itu. Aman?? Ya pasti aman donk.
Yang terpenting bukan mewah atau tidaknya acara pernikahan itu. Tapi sekuat apa ikatan yang telah kita ciptakan ini terjalin. Rumah tangga yang sehat adalah rumah tangga yang didambakan. Bukan berarti tak ada perselisihan. Perselisihan akan selalu ada. Tapi bagaimana kita menyikapinya dengan dewasa dan bijaksana. Salah satunya ialah dengan menerapkan pola hidup sederhana. Istri tak banyak menuntut hal2 duniawi. Suami pun tak kelabakan dengan permintaan2 yang tak perlu.

Kami berusaha untuk menanamkan nilai2 itu pada Saleha dan adik2nya kelak. Karena nilai2 kesederhanaan tak didapat secara instan. Semua diperoleh sejak dini dan diamalkan bersama hingga mati. Aamiin

Saturday, 19 November 2016

Family Oh Family

Weekend ini enaknya ngapain ya?
Buat yg sibuk bekerja pasti memilih weekend bersama keluarga. Kapan lagi bisa kumpul-kumpul bareng kalo bukan saat libur kerja?

Dulu waktu masih kecil, hari-hari kita selalu bersama keluarga. Kita belum memiliki kemampuan dan keberanian untuk keluar jauh dari rumah. Tapi seiring berjalannya waktu kita mulai bereksplorasi dan mengenal dunia luar. Saat masih remaja, saya juga merasakan apa yang dirasakan remaja sekarang. Ketika weekend, orangtua ingin menghabiskan waktu bersama saya, tapi saya malah ingin keluar bersama teman-teman.

Yah, seringkali keinginan orangtua tidak sejalan dengan anak-anaknya. Ketika orangtua merasa waktu mereka habis untuk bekerja, anak-anak justru merasa waktu mereka habis untuk belajar dan ingin bermain dengan teman sebaya. Namun setelah kita beranjak dewasa kita mulai menyadari, begitu banyak hal-hal yang terlewatkan bersama keluarga.

Weekend ini saya menonton drama Korea yang berjudul "Spy". Di awal-awal episode saya menangkap quote yang cukup menarik.

" Memang benar saat sedang bersama-sama, keluarga itu seperti rantai, namun ketika mereka pergi dan telah tiada maka kita akan merasa kesepian. Pada akhirnya keluarga lah tempat kita kembali."

Sempat ga mudeng awalnya. Tapi lama-lama saya paham maksudnya. Ketika bersama keluarga kita merasa seperti ada rantai yang membelenggu. Terutama ibu, selalu mengatakan, "ini ga boleh, itu ga boleh, jangan begini, jangan begitu." Rasanya semua dibatasi. Bagi ABG-ABG yang sedang heboh mencari jati diri pasti merasa tersiksa. Tapi coba saja kita pergi dan menjauh dari keluarga, pasti kita akan kesepian. Karena hanya orangtua dan keluarga lah yang dekat dan mengerti kita.

Well, tentu saja bagi anak-anak labil tulisan ini tidak terlalu penting. Karena mereka sedang berada dalam kekuasaan ego yang sangat tinggi. Namun suatu saat, ketika kita berada di tahap yang sama seperti orangtua kita (read:sudah punya anak), kita pasti menyadarinya. Sehingga, setelah dewasa kita pasti akan memilih menghabiskan waktu bersama keluarga saat weekend.

"Family means no one lefts behind and forgotten."
"

Friday, 18 November 2016

T.G.I.F.

Yeaaayyy.. Postingan kedua.. hehehe
Sering bertemu dengan singkatan T.G.I.F.? Kalau kamu anak gaul pasti sering donk menemukan singkatan itu. Bahkan karena saking ingin ikut-ikutan keren, kamu pun turut serta meramaikan timeline Social Media-mu dengan mengupdate status T.G.I.F.

Ya, T.G.I.F. adalah singkatan dari kalimat berbahasa Inggris, "Thank God It's Friday". Dari kalimatnya kita bisa paham bahwa T.G.I.F. adalah ungkapan rasa syukur atau terimakasih kita karena hari ini adalah hari Jum'at. Atau gampangnya, bersyukur banget deh ketemu ama hari Jum'at.
Wah, kenapa ya? hmmmm


Menurut beberapa sumber, T.G.I.F. bermula dari negeri Paman Sam, Amerika. Ungkapan ini sudah ada sejak tahun 1960an, dipopulerkan pertama kali oleh sebuah restoran T.G.I. Friday's yang berdiri pada tahun 1965. Namun seiring berjalannya waktu, ungkapan ini semakin populer pada tahun 1970 berkat sebuah film yang rilis tahun 1965 dengan judul yang sama. Waaahh,, ternyata udah lama juga ya.. Bisa dibilang saya ketinggalan karena baru tahu akhir-akhir ini.. hehehehe

Hari Jum'at pun menjadi spesial karena keesokan harinya merupakan weekend yang tentunya ditunggu-tunggu semua orang. Jum'at adalah hari terakhir mereka berkutat dengan pekerjaan sehingga mereka sangat bahagia apabila hari Jum'at datang.
Menurut sumber lain, di Amerika hari Jum'at adalah hari gajian. Pantas saja semua berbahagia.wong mau pegang duit.. heehehehe

Bagi umat Islam khususnya, hari Jum'at merupakan hari yang sangat istimewa.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

Saking istimewanya hari Jum'at, bahkan umat Muslim mendirikan Shalat Jum'at (di setiap hari Jum'at tentunya). Hari Jum'at bahkan diketahui sebagai Hari Raya umat Islam selain Idul Fitri dan Idul Adha.
Dalam Hadits lain Rasulullah SAW. bersabda, "Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan Muslim]

Begitu banyaknya keistimewaan hari Jum'at menurut Islam. Hari Jum'at adalah kesempatan untuk kita mengupgrade keadaan rohani kita. Mengisinya dengan ibadah dan zikir kepada Allah SWT. tidak akan pernah sia-sia.

Terlepas dari reaksi orang-orang tentang hari Jum'at. Secara umum saya mengambil kesimpulan bahwa hari Jum'at adalah hari yang istimewa. Semua orang berbahagia menyambutnya. Entah secara rohani maupun jasmani, entah dalam hal duniawi maupun agama, semua menganggap hari Jum'at istimewa.

Bagi beberapa orang, hari Jum'at adalah hari yang melegakan karena esok mereka akan bersantai. Beberapa yang lain menyambut hari Jum'at dengan bahagia karena hendak mendapat gaji. Keringat dan kerja keras mereka terbayar hari ini. Menantikan senyuman istri dan anak-anak di rumah yang menunggu hasil usahanya.

Tapi lebih jauh dan lebih dalam dari itu, hari jum'at bukan sekedar tentang jasmani dan duniawi belaka. Hari ini adalah hari dimana Tuhan menyebarkan kebahagiaan pada seluruh manusia, dengan harapan bahwa manusia akan menyadarinya lalu bersyukur. Syukur yang dituangkan dalam ibadah-ibadah khusyu dan syahdu. Dan hanya sedikit orang yang menyadarinya. Semoga kita termasuk didalamnya. Aamiin

Jum'at Mubarak..